Menjelang Akhir 2025, Dindapobia Rilis “Patah”, Single Pop Punk Sarat Emosi

oleh : -
Menjelang Akhir 2025, Dindapobia Rilis “Patah”, Single Pop Punk Sarat Emosi
Foto: Cover single “Patah” Dindapobia dengan visual batang tanaman patah sebagai simbol kesedihan dan kehilangan.

SURABAYA (Beritakeadilan.com, Jawa Timur) – Band pop punk legendaris asal Surabaya, Dindapobia, kembali menegaskan eksistensinya di kancah musik nasional dengan merilis single terbaru berjudul “Patah”. Karya ini dipersembahkan sebagai kado reflektif menjelang penutupan tahun 2025, sekaligus penanda perjalanan emosional band yang telah aktif hampir tiga dekade.

Single “Patah” mengisahkan kesedihan mendalam akibat kehilangan seorang sahabat secara tiba-tiba. Lagu ini menyuarakan kepiluan yang sunyi namun menghantam, dibalut nuansa pop punk dengan distorsi emosional yang kuat. Karya ini diciptakan oleh Antok, gitaris sekaligus vokalis Dindapobia, dengan pendekatan lirik yang puitis dan sarat makna.

Foto: Cover single “Patah” Dindapobia dengan visual batang tanaman patah sebagai simbol kesedihan dan kehilangan.Foto: Cover single “Patah” Dindapobia dengan visual batang tanaman patah sebagai simbol kesedihan dan kehilangan.

Penggalan lirik seperti “Kisah itu telah hilang bersama gelapnya malam” menjadi gambaran kehampaan setelah melewati suka dan duka bersama seseorang yang kini telah tiada. Metafora alam digunakan secara intens, tercermin dalam bait “Seperti ranting yang patah Seperti karang yang pecah”, yang merepresentasikan kehancuran batin secara perlahan.

Nuansa kehilangan dalam lagu ini semakin terasa ketika alam digambarkan ikut merasakan kesedihan. Lirik “Bulan bersedih Seakan mengerti perasaanku Sinarnya terpejam Saat kau tinggalkan aku” memperkuat suasana melankolis yang menjadi benang merah lagu “Patah”.

“Kami memilih judul ‘Patah’ karena itulah perasaan yang paling tepat untuk menggambarkan lirik ini, hancur setelah ditinggalkan tanpa alasan. Melalui lirik yang puitis, kami berharap pendengar dapat merasakan kedalaman emosi, bahwa ada kalanya perpisahan itu begitu menyakitkan hingga ‘bulan bersedih’ menyaksikan kita ditinggalkan,” ungkap Antok.

Single “Patah” dijadwalkan rilis resmi pada Desember 2025 dan akan tersedia di seluruh platform musik digital seperti Spotify dan Apple Music. Lagu ini juga akan diputar di berbagai stasiun radio di Indonesia sebagai bagian dari distribusi nasional.

“Rilis ini akan diikuti dengan peluncuran visual pendukung, termasuk video musik, video lirik, dan dokumentasi di balik layar proses rekaman lagu ‘Patah’,” jelas Antok.

Dindapobia menaruh perhatian khusus pada visual sampul digital single “Patah”. Cover art menampilkan batang tanaman yang patah dan kering, menjadi simbol visual dari lirik “Seperti ranting yang patah” sekaligus merepresentasikan esensi emosional lagu yang disebut sebagai “single kesedihan”.

Nama Dindapobia dikenal luas sejak merilis lagu “Hidup Kembali” pada tahun 2012, yang menjadi bagian dari album “The Triumph”. Lagu tersebut menjadi tonggak penting karena menandai kolaborasi perdana mereka dengan musisi nasional Bagus Dhanardana atau Om Bagus dari NTRL.

Dindapobia berdiri sejak 29 Juni 1996 dan digawangi oleh Antok pada gitar dan vokal, Ferry pada bass dan vokal, serta Edel pada drum. Selama perjalanannya, band ini dikenal konsisten menghadirkan lirik kuat dengan sound enerjik yang sarat nuansa nostalgia dan kisah personal.

“Dindapobia terus berkomitmen untuk menghasilkan musik yang jujur dan menyentuh pengalaman emosional pendengar,” pungkas Antok.(**)

banner 400x130
banner 728x90