Inovasi Rapid Test COVID-19 ITS Raih RIIM 2025, Akurasi Tinggi dan Biaya Terjangkau

oleh : -
Inovasi Rapid Test COVID-19 ITS Raih RIIM 2025, Akurasi Tinggi dan Biaya Terjangkau
Foto: Prof Dr rer nat Fredy Kurniawan SSi MSi dosen ITS penerima penghargaan RIIM 2025 atas inovasi Simple Rapid Test COVID-19 berbasis fluoresensi.

SURABAYA  (Beritakeadilan.com, Jawa Timur) – Inovasi Simple Rapid Test COVID-19 berbasis identifikasi fluoresensi mengantarkan dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) meraih penghargaan Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) 2025. Penghargaan ini diberikan atas kontribusi nyata tim peneliti ITS dalam menghadirkan solusi skrining kesehatan yang efektif dan relevan pada masa pandemi.

Riset tersebut dikembangkan oleh tim yang diketuai Prof Dr rer nat Fredy Kurniawan SSi MSi. Inovasi ini dinilai mampu menawarkan metode skrining yang lebih efisien dengan tingkat akurasi tinggi, sekaligus menjawab tantangan keterbatasan biaya dan waktu tunggu pemeriksaan COVID-19 yang selama ini terjadi.

Fredy menjelaskan bahwa riset ini berangkat dari problem deteksi COVID-19 yang kala itu masih bergantung pada Polymerase Chain Reaction (PCR) dan alat tes antigen. Kedua metode tersebut, menurutnya, memiliki keterbatasan dalam efisiensi biaya, keakuratan hasil, serta lamanya waktu tunggu.
"Latar belakang permasalahan ini berakar dari deteksi yang saat itu diterapkan yaitu menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) dan alat tes antigen," ujar Fredy.

Foto: Prof Dr rer nat Fredy Kurniawan SSi MSi dosen ITS penerima penghargaan RIIM 2025 atas inovasi Simple Rapid Test COVID-19 berbasis fluoresensi.Foto: Prof Dr rer nat Fredy Kurniawan SSi MSi dosen ITS penerima penghargaan RIIM 2025 atas inovasi Simple Rapid Test COVID-19 berbasis fluoresensi.

Ia menegaskan bahwa kecepatan deteksi menjadi faktor krusial dalam memutus rantai penyebaran virus. Oleh karena itu, tim ITS berupaya menghadirkan alat diagnosis yang cepat tanpa mengorbankan kualitas hasil pemeriksaan.
"Kami ingin menghadirkan alat diagnosis yang tidak hanya cepat, tetapi juga memiliki sensitivitas yang setara dengan uji laboratorium," kata penghobi mancing ini.

Inovasi Simple Rapid Test COVID-19 ini mengandalkan deteksi protein spike SARS-CoV-2 melalui sensor optik berbasis prinsip fluoresensi. Guru Besar Departemen Kimia ITS tersebut menjelaskan bahwa teknologi ini memungkinkan identifikasi virus dilakukan tanpa proses persiapan sampel yang rumit.

Sensor bekerja dengan berinteraksi langsung dengan protein virus dalam sampel. Saat interaksi terjadi, cahaya yang dipancarkan sensor akan mengalami penurunan intensitas secara linier sesuai dengan konsentrasi virus yang terdeteksi. Sinyal cahaya tersebut kemudian dikonversi ke dalam bentuk digital untuk menghasilkan diagnosis status kesehatan pasien secara presisi dan terukur.

Fredy mengungkapkan bahwa sistem sensor yang dikembangkan tidak hanya terbatas untuk mendeteksi COVID-19. Teknologi ini dinilai sangat fleksibel dan mudah diadaptasi untuk mendeteksi berbagai penyakit demam lainnya.
Saat ini, inovasi tersebut telah diarahkan untuk mendeteksi penyakit demam berdarah dan tengah dikembangkan lebih lanjut guna mengidentifikasi indikator penyakit tifus. Potensi adaptasi ini membuka peluang besar bagi penguatan sistem deteksi dini penyakit menular di Indonesia.

Keunggulan utama dari produk riset ITS ini terletak pada tingkat sensitivitas sensor yang diklaim melampaui standar alat tes cepat konvensional. Meski memiliki performa tinggi, biaya produksi alat tetap ditekan agar terjangkau dan dapat digunakan secara luas, termasuk di puskesmas maupun posko kesehatan.
Fredy menegaskan bahwa efisiensi biaya tidak akan mengurangi tingkat akurasi hasil diagnosis. Prinsip inilah yang menjadi kunci agar inovasi dapat benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.

Keberhasilan riset ini tidak lepas dari dukungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang mendorong percepatan proses hilirisasi produk. Sinergi antara ITS dan pemerintah diharapkan mampu membangun kemandirian teknologi kesehatan nasional.

Fredy berharap Indonesia tidak lagi bergantung pada perangkat diagnosis impor yang mahal. Visi jangka panjang dari inovasi ini adalah terciptanya sistem pengawasan kesehatan masyarakat yang terdigitalisasi dan merata hingga ke daerah.

Melalui inovasi Simple Rapid Test COVID-19 ini, tim dosen ITS turut berperan aktif dalam mewujudkan Sustainable Development Goals. Kontribusi tersebut selaras dengan tujuan ke-3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta tujuan ke-9 tentang Industri, Inovasi dan Infrastruktur.

Dedikasi tim akademisi ITS ini sekaligus menegaskan komitmen perguruan tinggi dalam menghadirkan riset yang tidak hanya unggul secara ilmiah, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi tantangan kesehatan global.(**)

banner 400x130
banner 728x90