KABUPATEN TUBAN, JAWA TIMUR – Desa Rengel, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, menjadi tujuan pembelajaran mahasiswa internasional Universitas Airlangga (UNAIR) dalam program International Community Service. Kamis (30/7/2026), mahasiswa dan mahasiswi dari Pakistan, Sudan, Ghana, Ukraina, dan Malaysia turun langsung mempelajari sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang telah berkembang di desa tersebut.
Didampingi dosen Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, para peserta tidak hanya mengikuti pemaparan materi, tetapi juga melakukan observasi lapangan untuk melihat bagaimana masyarakat mengelola sampah hingga menghasilkan nilai ekonomi.
Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Unit Usaha Satgas Kebersihan Purba Rahayu di bawah naungan BUMDes Mandiri Sejahtera. Di tempat ini, mahasiswa dan mahasiswi diperkenalkan pada sejarah berdirinya satgas, mekanisme pengelolaan sampah berbasis partisipasi warga, hingga proses pemilahan sampah yang masih dilakukan secara manual.
Kegiatan kemudian berlanjut ke area budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), instalasi pembuatan pupuk kompos, serta Unit Ketahanan Pangan Purba Rahayu yang dikembangkan bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan. Para peserta juga mengikuti praktik pembuatan eco enzyme dan dekomposer dari limbah organik sebagai bagian dari pembelajaran pengelolaan sampah berkelanjutan.
Rombongan selanjutnya mengunjungi Kampung Idaman Berseri untuk melihat pengelolaan bank sampah sekaligus menyaksikan lingkungan permukiman yang bersih, hijau, dan tertata. Kawasan tersebut menjadi contoh bagaimana keterlibatan warga mampu menciptakan lingkungan yang sehat sekaligus produktif.
Kepala Desa Rengel, Mundir, menyambut baik kehadiran mahasiswa dan mahasiswi internasional di desanya. Menurutnya, kunjungan tersebut menjadi momentum memperkenalkan inovasi desa sekaligus menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat memberikan manfaat nyata bagi lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Kami merasa bangga Desa Rengel dapat menjadi tempat belajar bagi mahasiswa dari berbagai negara. Pengelolaan sampah yang kami lakukan dibangun melalui partisipasi masyarakat. Harapannya, praktik baik ini dapat menginspirasi daerah lain sekaligus memperkuat semangat bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan,” ujar Mundir.
Ia menambahkan, keberhasilan Desa Rengel tidak terlepas dari komitmen masyarakat yang terus mengembangkan berbagai inovasi dalam mengolah limbah menjadi produk yang memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi.
Bagi para mahasiswa dan mahasiswi internasional, kunjungan tersebut memberikan pengalaman baru tentang model pengelolaan sampah yang melibatkan masyarakat secara aktif. Program International Community Service ini sekaligus menjadi ruang pertukaran pengetahuan serta memperkenalkan inovasi Desa Rengel dan Kabupaten Tuban kepada dunia melalui pengalaman belajar lintas negara.

Belum ada komentar