SURABAYA, JAWA TIMUR – Universitas Airlangga (Unair) Surabaya masih menunggu hasil pemeriksaan komite etik sebelum menjatuhkan sanksi kepada pihak-pihak yang diduga terlibat dalam kasus video asusila yang viral dan terjadi di lingkungan kampus.
Pihak kampus menegaskan proses penanganan kasus tersebut dilakukan secara profesional, objektif, dan tetap mengedepankan perlindungan hak seluruh pihak yang terlibat.
Ketua Pusat Humas dan Protokol (PHMP) Universitas Airlangga, Pulung Siswantara, mengatakan keputusan terkait sanksi belum dapat diumumkan karena proses pemeriksaan masih berlangsung.
Menurutnya, komite etik saat ini tengah melakukan pendalaman terhadap seluruh fakta dan keterangan yang diperoleh dari berbagai pihak.
“Untuk sanksi akan dikeluarkan oleh komite etik setelah pemeriksaan selesai. Dan tentunya mungkin tidak lama lagi,” ujar Pulung Siswantara saat jumpa pers di Surabaya, Jumat (19/6/2026).
Pulung menegaskan bahwa pihak kampus tidak ingin tergesa-gesa dalam mengambil keputusan sebelum seluruh proses investigasi selesai dilakukan.
“Oleh karena itu, saat ini Unair juga berusaha untuk memberikan sesuatu yang objektif, profesional, dan mengedepankan perlindungan hak seluruh pihak yang terlibat,” jelasnya.
Terkait kemungkinan pemberian sanksi berupa skorsing terhadap mahasiswa yang diduga terlibat, Pulung mengaku belum dapat memberikan kepastian.
Menurutnya, bentuk sanksi akan ditentukan setelah komite etik menyelesaikan pemeriksaan dan menetapkan tingkat pelanggaran yang terjadi.
“Kita akan lihat setelah ini, hasil pemeriksaan,” katanya.
Saat ini, Unair juga masih mendalami apakah kasus tersebut masuk dalam kategori pelanggaran berat yang berpotensi mendapatkan sanksi lebih tegas sesuai aturan kampus.
Dalam proses investigasi, Unair tidak hanya memanggil mahasiswa yang diduga terlibat dalam video tersebut. Kampus juga menghadirkan orang tua masing-masing mahasiswa untuk dimintai keterangan.
Pulung menjelaskan langkah tersebut dilakukan karena para mahasiswa masih berada dalam pengawasan orang tua.
“Orang tua juga diperiksa. Jadi karena memang anak ini masih berada di pengawasan orang tua. Oleh karena itu orang tua juga kami datangkan,” ujarnya.
Selain itu, pemeriksaan juga diperluas kepada pihak-pihak lain yang diduga memiliki keterkaitan dengan penyebaran video tersebut.
Unair memastikan pemeriksaan tidak hanya berfokus pada dua mahasiswa yang terlihat dalam rekaman video.
Pihak kampus juga akan menelusuri pihak yang merekam, mengunggah, hingga menyebarluaskan video yang kemudian viral di media sosial.
“Artinya semua pihak juga akan kami periksa semua,” tegas Pulung.
Langkah tersebut dilakukan untuk memperoleh gambaran utuh mengenai kronologi kejadian sekaligus memastikan seluruh pihak yang terlibat bertanggung jawab sesuai ketentuan yang berlaku.
Sebagai upaya pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang, Universitas Airlangga menyebut hampir seluruh ruang kuliah telah dilengkapi kamera pengawas atau CCTV.
Selain pengawasan melalui perangkat keamanan, kampus juga secara rutin memberikan edukasi kepada mahasiswa terkait etika, norma akademik, dan perilaku yang sesuai dengan lingkungan perguruan tinggi.
“Di hampir semua ruang kelas di Universitas Airlangga sudah ada CCTV dan memang ada pengawasan,” imbuhnya.
Unair menegaskan tidak memberikan toleransi terhadap segala bentuk pelanggaran aturan kampus, etika akademik, maupun prinsip akuntabilitas yang berlaku di lingkungan universitas.
Kasus ini mencuat setelah beredar video berdurasi 2 menit 51 detik yang memperlihatkan sepasang mahasiswa diduga melakukan tindakan asusila di dalam ruang kelas perkuliahan.
Peristiwa tersebut diketahui terjadi di Gedung Kuliah Bersama (GKB) Universitas Airlangga Surabaya.
Berdasarkan informasi yang beredar, kedua mahasiswa yang terekam dalam video tersebut diketahui berinisial HMB, mahasiswa Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin, serta NJ yang merupakan mahasiswi Fakultas Hukum.
Keduanya diduga memanfaatkan ruang kelas yang sedang kosong. Mereka disebut tidak menyadari keberadaan seorang mahasiswa lain yang berada di dalam ruangan tersebut dan kemudian merekam kejadian menggunakan telepon genggam.
Video tersebut kemudian tersebar luas di media sosial dan memicu perhatian publik serta mendorong pihak kampus melakukan investigasi internal.

Belum ada komentar