KABUPATEN BOJONEGORO, JAWA TIMUR – ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) memberikan penjelasan terkait pandangan sebagian masyarakat mengenai terbatasnya penyerapan tenaga kerja lokal di wilayah operasional industri migas. Perusahaan menyebut kebutuhan tenaga kerja pada fase operasi memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan fase konstruksi yang sebelumnya melibatkan tenaga kerja dalam jumlah lebih besar.
External Engagement & Socioeconomic Manager EMCL, Tezhart Elvandiar, mengatakan industri minyak dan gas merupakan sektor yang mengandalkan investasi besar, teknologi tinggi, serta tenaga kerja dengan kompetensi dan sertifikasi tertentu.
Menurut dia, pada tahap konstruksi, kebutuhan tenaga kerja relatif tinggi karena mencakup berbagai pekerjaan pembangunan fasilitas dan infrastruktur. Namun setelah memasuki fase operasi, kebutuhan tenaga kerja menjadi lebih spesifik dan berfokus pada bidang-bidang yang memerlukan keahlian teknis khusus.
“Kami memahami adanya dinamika di masyarakat terkait kebutuhan tenaga kerja. Fase operasi memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan fase konstruksi, ketika kebutuhan tenaga kerja cenderung lebih besar,” kata Tezhart dalam keterangan tertulis yang diterima media. Selasa (9/6/2026).
Ia menjelaskan, proses rekrutmen tenaga kerja yang dilakukan EMCL selama ini dikoordinasikan dengan pemerintah desa di sekitar wilayah operasi. Koordinasi tersebut, menurutnya, bertujuan agar informasi mengenai kebutuhan tenaga kerja dapat tersampaikan secara terbuka kepada masyarakat.
Selain menyediakan kesempatan kerja langsung, EMCL menyatakan terus menjalankan berbagai Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM). Program tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas masyarakat sekaligus mendorong terciptanya peluang ekonomi yang berkelanjutan di wilayah sekitar operasi.
“EMCL senantiasa berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat agar informasi kebutuhan tenaga kerja dapat tersampaikan dengan baik kepada masyarakat,” ujarnya.
Tezhart menambahkan, kontribusi sektor migas terhadap daerah tidak semata diukur dari jumlah tenaga kerja yang terserap. Menurut dia, industri migas juga memberikan manfaat melalui Dana Bagi Hasil (DBH) Migas yang menjadi salah satu sumber pendapatan daerah.
Dana tersebut, kata dia, berkontribusi dalam pembiayaan berbagai program pembangunan, mulai dari pembangunan infrastruktur, peningkatan layanan publik, hingga program kesejahteraan masyarakat.
EMCL meyakini manfaat industri migas dapat dirasakan melalui berbagai jalur, baik kesempatan kerja langsung, penguatan ekonomi masyarakat, maupun dukungan terhadap pembangunan daerah melalui penerimaan negara dan daerah dari sektor migas.
“Kami percaya kontribusi ini memberikan manfaat yang luas dan berkelanjutan, tidak hanya melalui kesempatan kerja langsung, tetapi juga melalui penguatan ekonomi masyarakat dan percepatan pembangunan daerah secara keseluruhan,” kata Tezhart.

Belum ada komentar