KPM Gayatri Desa Belun Berinovasi, Pakan Fermentasi Pangkas Biaya dan Minimalkan Bau Kandang

Foto: KPM Subeki warga Desa Belun, kecamatan Temayang, kabupaten Bojonegoro dilokasi kandang ayam
beritakeadilan.com,

KABUPATEN BOJONEGORO, JAWA TIMUR – Tingginya harga pakan ayam petelur tidak membuat Subeki menyerah. Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Gayatri asal RT 10 RW 02 Desa Belun, Kecamatan Temayang, itu justru memilih berinovasi.

Ia mengembangkan pakan fermentasi yang mampu menekan biaya produksi. Inovasi tersebut juga membuat bau kotoran ayam jauh berkurang sehingga kandang lebih nyaman bagi keluarga maupun warga sekitar.

Hampir setahun mengikuti Program Gayatri (Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri), Subeki terus mencari cara agar usaha ternaknya lebih efisien. Salah satunya dengan meracik pakan sendiri sebagai alternatif pakan pabrikan.

Saat ditemui di kandangnya, Kamis (23/7/2026), Subeki mengatakan mulai menerima bantuan Program Gayatri pada Agustus 2025. Saat ini, dari 150 ekor ayam petelur yang telah memasuki masa produksi, ia mampu menghasilkan rata-rata sekitar 7,5 kilogram telur per hari. Selain itu, masih terdapat 100 ekor ayam berusia sekitar dua bulan yang dipersiapkan untuk menambah kapasitas produksi ketika memasuki masa bertelur.

“Saya menerima program sejak Agustus 2025. Setelah beberapa bulan berjalan, hasil panen mulai terasa. Sekarang rata-rata bisa panen sekitar 7,5 kilogram telur per hari dan masih memberikan keuntungan setelah dihitung biaya produksinya,” ujar Subeki.

Menurutnya, biaya pakan menjadi pengeluaran terbesar dalam usaha ayam petelur. Karena itu, ia mencoba membuat pakan sendiri melalui proses fermentasi.

“Setelah saya hitung semua biaya, saya mencoba membuat pakan sendiri dengan standar yang hampir sama seperti pakan pabrikan. Bedanya menggunakan proses fermentasi. Alhamdulillah, produksi telur tetap stabil,” katanya.

Pakan fermentasi itu tidak hanya menghemat biaya produksi. Bau kotoran ayam juga jauh berkurang sehingga kandang tetap nyaman meski berada di lingkungan permukiman.

Petugas Teknis Peternakan (PTT) Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro yang bertugas di Kecamatan Temayang, Sugihartono, mengatakan inovasi tersebut mulai diikuti sejumlah KPM lainnya.

“Banyak KPM yang menyampaikan setelah menggunakan pakan fermentasi mereka bisa menghemat sekitar Rp20 ribu sampai Rp25 ribu setiap hari dibandingkan menggunakan pakan pabrikan. Selain itu, bau kotoran ayam juga jauh berkurang sehingga lebih ramah terhadap lingkungan,” kata Sugihartono.

Sekretaris Kecamatan Temayang, Danu, mengapresiasi kreativitas Subeki dalam mengembangkan Program Gayatri. Menurutnya, inovasi tersebut dapat menjadi inspirasi bagi KPM lainnya.

“Kami mengapresiasi kreativitas salah satu KPM yang mampu mengembangkan Program Gayatri melalui inovasi pakan fermentasi. Semoga ini menjadi inspirasi bagi KPM lainnya sehingga program ini terus memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Danu.

Meski telah merasakan manfaat program, Subeki berharap dukungan pemerintah tidak berhenti pada pendampingan budidaya.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten Bojonegoro bersama Dinas Perdagangan dapat membantu membuka akses pemasaran telur hasil Program Gayatri. Menurutnya, kepastian pasar menjadi kunci agar usaha para KPM terus berkembang dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Belum ada komentar