KABUPATEN BOJONEGORO, JAWA TIMUR – Jalan rigid beton di Desa Tapelan, Kecamatan Ngraho, Kabupaten Bojonegoro, belum lama rampung. Namun proyek yang disebut menelan anggaran lebih dari Rp2 miliar dari dana Bantuan Keuangan Khusus Desa (BKKD) itu kini sudah dipenuhi retakan.
Pantauan tim media di lokasi, Rabu (13/5/2026), memperlihatkan retakan memanjang di sejumlah bagian badan jalan. Pada beberapa titik, permukaan beton juga tampak mengelupas. Padahal umur proyek baru hitungan bulan.
Kerusakan itu memantik sorotan warga. Mereka mempertanyakan kualitas pekerjaan proyek yang dibiayai uang negara tersebut.
“Angkanya fantastis, lebih dari Rp 2 miliar. Tapi hasilnya begini? Baru beberapa bulan dipakai sudah retak-retak seperti kulit jeruk. Ini uang rakyat lo mas,” kata seorang warga Desa Tapelan yang meminta namanya tidak dipublikasikan.
Warga menduga ada persoalan dalam proses pengerjaan. Mulai dari kualitas campuran beton, ketebalan rigid, hingga pemadatan tanah dasar atau subgrade yang dinilai tidak maksimal.
Kondisi jalan yang cepat rusak dianggap janggal. Sebab, proyek rigid beton umumnya dirancang untuk bertahan bertahun-tahun, bukan justru retak ketika usia proyek bahkan belum seumur jagung.
“Keluhan masyarakat seperti ini adalah laporan langsung. Semoga segera disidak seperti kasus di desa-desa lain, agar ada pertanggungjawaban tegas dari pihak yang bersangkutan,” ujar warga lainnya.
Sorotan publik kini mengarah pada pengawasan proyek dan penggunaan dana BKKD. Warga mendesak Pemerintah Kabupaten Bojonegoro segera melakukan inspeksi teknis secara terbuka untuk memastikan mutu pekerjaan sesuai spesifikasi.
Bila ditemukan penyimpangan material atau metode kerja yang tidak memenuhi standar, warga meminta pelaksana proyek bertanggung jawab penuh, termasuk melakukan pembongkaran dan pengerjaan ulang terhadap bagian jalan yang rusak.
Namun hingga berita ini ditulis, Kepala Desa Tapelan, Bambang Edi S, belum memberikan keterangan kepada awak media. Sikap bungkam itu justru memperkuat kekecewaan warga yang menunggu penjelasan atas proyek miliaran rupiah yang kini mulai rusak.
Peristiwa ini kembali memunculkan pertanyaan lama soal kualitas proyek infrastruktur desa: anggaran besar digelontorkan, tetapi mutu pekerjaan justru dipersoalkan warga tidak lama setelah proyek selesai.

Belum ada komentar