Abdul Hadi Buktikan Bertani Bawang Merah Bisa Jadi Pilihan Masa Depan

Abdul Hadi Buktikan Bertani Bawang Merah Bisa Jadi Pilihan Masa Depan
beritakeadilan.com,

KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR – Menjadi petani kerap dipandang sebagai pekerjaan yang penuh risiko dan jauh dari kesan menjanjikan. Namun, anggapan itu coba dipatahkan Abdul Hadi, petani bawang merah asal Desa Truni, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan.

Di tengah fluktuasi harga dan berbagai tantangan budidaya, Abdul Hadi justru memilih menekuni pertanian. Bagi Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Truni tersebut, bertani bukan sekadar pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, melainkan bidang yang memiliki peluang ekonomi apabila dikelola dengan tekun.

Secara pribadi, Abdul Hadi mengelola lahan bawang merah seluas kurang lebih 1,5 hektare. Dalam setahun, lahan tersebut dapat dipanen hingga sekitar lima kali, bergantung pada pola tanam, kondisi lahan, cuaca, serta situasi harga di tingkat petani.

Dari usaha tersebut, hasil yang diperolehnya secara keseluruhan disebut dapat mencapai sekitar Rp300 juta hingga Rp400 juta per tahun ketika produksi dan harga berada dalam kondisi mendukung.

Namun, capaian tersebut bukan berarti pertanian bebas dari risiko. Abdul Hadi mengaku harus menghadapi dinamika harga bawang merah yang dapat berubah dari waktu ke waktu.

Pada 2023, misalnya, harga bawang merah di tingkat petani sempat berada di kisaran Rp13 ribu per kilogram. Kondisi tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa pendapatan petani sangat bergantung pada produktivitas sekaligus harga jual hasil panen.

Meski demikian, Abdul Hadi memilih tidak menjadikan jatuhnya harga sebagai alasan untuk meninggalkan pertanian.

“Petani yang sudah belajar jangan sampai kapok. Harga bawang merah tidak mungkin murah terus. Yang penting kita tetap semangat dan terus belajar,” ujarnya. Selasa (15/9/2026).

Menurutnya, pengalaman menghadapi berbagai kondisi justru menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang petani. Pengetahuan mengenai pengolahan lahan, pola tanam, perawatan tanaman hingga membaca kondisi pasar menjadi modal yang tidak kalah penting dibanding luas lahan yang dimiliki.

Pada 2026, harga bawang merah di tingkat petani disebut berada di kisaran Rp18 ribu per kilogram. Kondisi tersebut memberikan ruang yang lebih baik bagi petani, meski tetap tidak menjamin hasil yang sama pada setiap musim panen.

Abdul Hadi menilai keberhasilan petani tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengelola lahan. Dukungan sarana dan prasarana pertanian juga menjadi faktor penting untuk meningkatkan produktivitas.

Salah satu kebutuhan yang diharapkannya mendapat perhatian adalah alat pengolahan lahan. Menurut dia, ketersediaan peralatan pertanian dapat membantu petani mempercepat sekaligus meringankan proses pengolahan tanah.

Selain alat pertanian, ketersediaan air juga menjadi faktor penting dalam budidaya. Karena itu, Abdul Hadi mengapresiasi program irigasi perpompaan (Irpom) yang tahun ini diterima kelompok tani di Desa Truni.

Program tersebut dikerjakan oleh anggota kelompok tani Truni Maju Dua, Subakir. Bagi Abdul Hadi, dukungan seperti itu memiliki arti penting karena kebutuhan air menjadi salah satu penentu keberlangsungan kegiatan pertanian.

Ia pun mengapresiasi perhatian pemerintah, khususnya Dinas Pertanian, terhadap kebutuhan petani di wilayahnya.

Menurut Abdul Hadi, hubungan antara petani dan pemerintah perlu terus diperkuat. Petani membutuhkan dukungan sarana, sementara pemerintah membutuhkan petani sebagai bagian penting dari penggerak sektor pangan dan ekonomi masyarakat.

Bagi Abdul Hadi, pertanian semestinya tidak dipandang sebagai pekerjaan yang identik dengan keterbatasan. Justru, apabila ditekuni dengan pengetahuan, perhitungan dan kerja keras, sektor tersebut dapat memberikan penghasilan sekaligus menjadi pilihan hidup yang layak.

Karena itu, ia mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, tidak memandang sebelah mata profesi petani.

“Jangan takut menjadi petani. Jangan mudah menyerah ketika harga turun. Tetap belajar, tetap bekerja, dan tetap semangat,” pesannya.

Kisah Abdul Hadi menunjukkan bahwa masa depan pertanian tidak hanya ditentukan oleh besarnya lahan. Ketekunan, keberanian menghadapi risiko, kemauan belajar, serta dukungan terhadap kebutuhan petani menjadi kombinasi yang dapat membuat sektor pertanian tetap memiliki daya hidup.

Di tengah kebutuhan menjaga produksi pangan sekaligus membuka lapangan penghidupan di desa, pengalaman Abdul Hadi menjadi gambaran bahwa menjadi petani bukan pilihan tanpa masa depan.

Sebaliknya, dengan pengelolaan yang serius, pertanian dapat menjadi pekerjaan yang produktif, mandiri, sekaligus memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

Belum ada komentar