KABUPATEN SIDOARJO, JAWA TIMUR-Komitmen terhadap keamanan pangan pelaku UMKM diuji melalui konsistensi antara dokumen legalitas dengan praktik operasional di dapur produksi. Hal ini mencuat dalam investigasi eksklusif di rumah produksi roti Perumahan Nirwana Asri, Kelurahan Kemasan, Kecamatan Krian, Jumat (17/4/2026).
Kristin, pemilik usaha roti, menegaskan bahwa pihaknya telah mengantongi izin resmi dari BPOM dan Nomor Induk Berusaha (NIB). Namun, temuan di lapangan menunjukkan adanya celah pada Standar Operasional Prosedur (SOP) higienitas karyawan.
Dalam pantauan langsung, beberapa karyawan kedapatan mengoleskan mentega pada cetakan roti tanpa menggunakan sarung tangan standar pangan (food grade). Praktik ini berpotensi menimbulkan kontaminasi silang, yang dapat mengancam kualitas produk.
Padahal, standar higienitas ketat merupakan syarat mutlak bagi usaha yang telah mengantongi izin BPOM. Kristin menyatakan akan segera melakukan evaluasi internal demi menjaga kualitas dan kepercayaan konsumen.
Selain higienitas, sorotan lain muncul terkait penggunaan LPG subsidi 3 kilogram. Kristin mengakui kendala beralih ke gas non-subsidi karena sulitnya mendapatkan tabung pengganti. “Kami sudah coba pesan LPG non-subsidi lewat aplikasi online, tapi barang tidak kunjung dikirim,” ungkapnya. Dengan omzet tahunan di bawah Rp 500 juta, usaha ini masih dikategorikan sebagai usaha mikro sehingga diperbolehkan memakai LPG 3 kg. Lurah Kemasan, Lujeng Wiyati S.E., menyebutkan bahwa usaha roti tersebut terdata secara administrasi dan tidak pernah menimbulkan keluhan warga. Bahkan, pemilik usaha aktif dalam kegiatan sosial lingkungan.
Meski demikian, pemerintah daerah menekankan pentingnya konsistensi higienitas di setiap rantai produksi. Pendampingan teknis dari dinas terkait diharapkan mampu memperkuat budaya kerja higienis di kalangan UMKM.
Edukasi bagi pelaku UMKM menegaskan bahwa keamanan pangan tidak berhenti pada sertifikat, tetapi harus tercermin dalam budaya kerja. Pakaian kerja standar di industri roti meliputi:
- Seragam hygiene
- Topi hairnet atau koki
- Masker
- Apron
- Sepatu safety
Penggunaan alat bantu higienis merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga kepercayaan publik. Investigasi ini menegaskan bahwa legalitas usaha tidak cukup tanpa penerapan higienitas yang konsisten. Tantangan energi dan keterbatasan akses LPG non-subsidi menambah kompleksitas bagi UMKM. Namun, komitmen terhadap keamanan pangan tetap menjadi kunci utama agar usaha mikro dapat tumbuh sehat, dipercaya konsumen, dan sesuai regulasi.

Belum ada komentar