KABUPATEN BOJONEGORO, JAWA TIMUR – Hamparan sawah di Desa Campurjo tak lagi sepenuhnya hijau. Di sejumlah titik, air yang menggenang justru tampak keruh dan berminyak. Lapisan pekat itu menutup permukaan, menyisakan tanda tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi di lahan pertanian warga.
Foto-foto yang beredar memperlihatkan kondisi yang sulit diabaikan. Air yang semestinya menunjang pertumbuhan padi berubah rupa. Dugaan pencemaran mengemuka. Namun hingga kini, tanggung jawab korporasi belum juga terang.
Warga mengaku berulang kali mencoba menyampaikan keluhan. Hasilnya belum memuaskan. Proses yang ditempuh kerap berujung buntu, bahkan disertai keraguan terhadap laporan mereka.
“Waktu itu terlihat sekali minyaknya, tapi malah dibilang kalau di tempat lain ada yang dikasih minyak dulu baru lapor, Sampai saya disuruh uji laboratorium sendiri,” ujar warga dalam percakapan yang diterima redaksi.(13/4/2026)
Pernyataan itu menggambarkan situasi yang dihadapi warga: laporan tidak serta-merta dipercaya. Beban pembuktian justru bergeser ke pihak yang terdampak. Untuk memastikan adanya pencemaran, warga diminta melakukan uji laboratorium secara mandiri.
Dalam prosesnya, sebagian warga juga mengaku mendapat perlakuan yang tidak nyaman. Mereka yang bersuara disebut-sebut sempat dicap negatif oleh oknum tertentu. Kondisi ini menambah tekanan di tengah persoalan lingkungan yang belum terselesaikan.
Masalah lain muncul dari janji pemulihan lahan. Dalam Berita Acara yang dibuat pada 2017, terdapat rencana penggantian tanah subur. Hingga kini, realisasinya belum terlihat di lapangan. Janji tersebut masih menjadi catatan tanpa kepastian.
Beberapa petugas lapangan dari pihak perusahaan disebut pernah menunjukkan sikap terbuka. Namun langkah itu bersifat terbatas. Kebijakan yang lebih luas belum tampak berubah.
Kasus ini juga sempat menarik perhatian aparat kepolisian. Dokumentasi dampak lingkungan pernah diminta. Namun setelah itu, tindak lanjutnya belum jelas.
Situasi ini menyisakan pertanyaan: bagaimana penegakan regulasi lingkungan dijalankan jika bukti visual masih diperdebatkan? Ketika warga harus membuktikan sendiri dugaan pencemaran, posisi mereka menjadi kian lemah.
Redaksi masih berupaya menghubungi pihak terkait untuk memperoleh penjelasan mengenai kelanjutan Berita Acara dan rencana kompensasi lahan. Bagi warga Campurjo, yang dinanti bukan sekadar jawaban, melainkan kepastian.

Belum ada komentar