Bogor Jadi Panggung Talenta Muda, 1.400 Pesilat dari 15 Provinsi Adu Prestasi

Bogor Jadi Panggung Talenta Muda, 1.400 Pesilat dari 15 Provinsi Adu Prestasi
beritakeadilan.com,

KOTA BOGOR, JAWA BARAT – Sebanyak 1.400 pesilat muda dari 15 provinsi di Indonesia memeriahkan Kejuaraan Nasional Pencak Silat Bogor Grand Championship di GOR Pajajaran, Kota Bogor, Jawa Barat, 18–20 September 2026.

Ajang tersebut mempertemukan pesilat dari berbagai daerah dalam sejumlah kategori usia, mulai Usia Dini 1, Usia Dini 2, Pra-Remaja hingga Remaja. Selain menjadi arena kompetisi, kejuaraan ini juga menjadi ruang bagi para atlet muda untuk mengasah kemampuan, menambah pengalaman, sekaligus menunjukkan potensi mereka di level nasional.

Penyelenggaraan Bogor Grand Championship mendapat dukungan dari KONI, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Pemerintah Kota Bogor, Bingkai Muda Indonesia (BMI), Mandau Arena Cipta Event (MACE) serta sejumlah mitra pendukung lainnya.

Ketua Harian IPSI Kota Bogor, Yoga Firman Hidayat, mengapresiasi pelaksanaan kejuaraan yang dinilainya berjalan lancar dan mendapat antusiasme tinggi dari peserta.

“Alhamdulillah kejuaraan Bogor Championship ini berjalan dengan sangat lancar dan sukses. Peserta yang ikut sebanyak 1.400-an. Mudah-mudahan event yang akan datang bisa lebih banyak dan lebih sukses lagi,” ujarnya.

Yoga menegaskan, IPSI akan terus memberikan dukungan terhadap berbagai kegiatan pencak silat sebagai bagian dari upaya mengembangkan sekaligus menjaga keberlangsungan olahraga yang telah menjadi bagian dari budaya Indonesia.

“Dengan diberikannya warisan budaya tak benda dari UNESCO, IPSI mempunyai kewajiban untuk memajukan, melestarikan, dan mensukseskan silat sebagai ciri bangsa Indonesia,” sambungnya.

Dari sisi pembinaan atlet, Iskandar, S.Pd., M.Pd., Analis Kebijakan Ahli Muda Asisten Deputi Bidang Olahraga dan Pendidikan Kemenpora, menyebut kompetisi seperti Bogor Grand Championship memiliki peran penting dalam menemukan bibit-bibit atlet potensial.

“Kegiatan kompetisi seperti ini adalah mencari basis untuk anak-anak yang sudah belajar dan dibina melalui olahraga ekstrakurikuler, terutama pencak silat. Dari kompetisi inilah kemudian terlihat talenta-talenta yang mempunyai bakat,” ucapnya.

Menurut Iskandar, pembinaan olahraga tidak semata-mata berorientasi pada prestasi. Proses latihan dan kompetisi juga menjadi bagian penting dalam membentuk karakter generasi muda, terutama dalam hal kedisiplinan, kerja sama dan sportivitas.

“Kegiatan yang bermanfaat ini akan membentuk karakter anak-anak remaja kita sehingga memiliki karakter disiplin, kerja sama dan sportivitas,” jelasnya.

Sementara itu, kebanggaan dirasakan Robbani, S.Pd., dari Sigap Panglipur Bogor, setelah timnya berhasil meraih Grand Champion dalam kejuaraan tersebut.

“Alhamdulillah kami merasa terharu dan bangga terhadap raihan medali ataupun Grand Champion ini. Perasaan kami tidak bisa diucapkan dengan kata-kata,” ungkapnya.

Robbani mengatakan, pencapaian tersebut tidak terlepas dari kekompakan antara pelatih, atlet dan orang tua yang telah dibangun sejak masa persiapan.

“Intinya kekompakan dari sisi pelatih, orang tua, anak, kita bersatu dan alhamdulillah terlaksana,” imbuhnya.

Ia juga mengingatkan para pesilat muda agar tidak cepat berpuas diri dengan hasil yang telah diraih. Bagi atlet yang belum berhasil meraih prestasi, proses latihan dan doa harus terus dilakukan.

“Jangan merasa kita sudah pintar, jangan merasa kita sudah bisa. Tetap kita berlatih, berlatih, berlatih. Untuk yang belum berhasil, tiada hari tanpa latihan dan doa,” tutupnya.

Bogor Grand Championship 2026 pun tidak sekadar menjadi arena perebutan medali. Kejuaraan tersebut menjadi bagian dari proses pembinaan generasi muda, mulai dari pencarian talenta, penguatan karakter hingga regenerasi atlet pencak silat, sekaligus menjaga keberlanjutan pencak silat sebagai warisan budaya Indonesia.

Belum ada komentar