Pemkab Bojonegoro Angkat Potensi Geosite Kedung Lantung, Rembesan Minyak Bumi Alami yang Jadi Daya Tarik Sugihwaras

Foto: Ilustrasi Geosite Kedung Lantung di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro, yang dikenal sebagai lokasi rembesan minyak bumi alami.
beritakeadilan.com,

KABUPATEN BOJONEGORO, JAWA TIMUR – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus mengoptimalkan potensi wisata berbasis warisan geologi melalui Geosite Kedung Lantung di Dusun Nglantung, Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras. Di kawasan yang menyimpan fenomena rembesan minyak bumi alami tersebut, Selasa (4/8/2026), pengunjung masih dapat menyaksikan minyak bumi yang keluar secara alami dari rekahan batuan dan mengalir di Sungai Borik.

Geosite berkode G-05 itu menjadi salah satu jejak terbentuknya sistem petroleum alami di Bojonegoro. Selain memiliki nilai ilmiah, kawasan ini juga menyimpan sejarah pemanfaatan minyak bumi oleh masyarakat setempat sejak puluhan tahun silam.

Untuk mencapai lokasi, pengunjung harus menempuh perjalanan sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Bojonegoro atau sekitar satu setengah jam berkendara. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalur menuju kawasan yang masih asri. Di pintu masuk telah tersedia papan informasi mengenai sejarah Geosite Kedung Lantung beserta sejumlah imbauan bagi wisatawan.

Secara geologi, Kedung Lantung berada di Zona Kendeng yang terbentuk dari proses pengendapan laut dalam jutaan tahun lalu. Aktivitas tektonik kemudian membentuk rekahan batuan yang menjadi jalur keluarnya minyak bumi dari lapisan reservoir menuju permukaan.

Karena memiliki massa jenis lebih ringan dibandingkan air, minyak bumi terdorong naik melalui rekahan batuan hingga muncul sebagai rembesan alami di aliran Sungai Borik. Fenomena tersebut menciptakan lapisan warna menyerupai pelangi akibat pantulan cahaya di permukaan air.

Bagi masyarakat Desa Drenges, rembesan minyak bumi yang dikenal dengan sebutan Lintung telah dimanfaatkan secara turun-temurun sebagai bahan bakar penerangan tradisional sebelum listrik menjangkau wilayah tersebut.

Keberadaan Kedung Lantung juga melengkapi kekayaan geologi Bojonegoro bersama Geosite Kayangan Api di Kecamatan Ngasem. Jika Kayangan Api dikenal dengan rembesan gas bumi yang menyala secara alami, Kedung Lantung memperlihatkan rembesan minyak bumi cair yang keluar dari lapisan batuan.

Selain menyuguhkan wisata edukasi, kawasan ini juga memperkenalkan potensi ekonomi masyarakat. Anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kedung Lantung, Nabila, mengatakan mayoritas warga Desa Drenges membudidayakan jagung dan singkong sebagai komoditas utama.

“Mayoritas hasil pertanian di sini adalah jagung dan singkong. Karena itu, olahan marning dan Balung Kuwuk menjadi produk khas Desa Drenges,” ujar Nabila.

Melalui pengembangan Geosite Kedung Lantung, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro berupaya menjaga warisan geologi sekaligus mendorong pertumbuhan pariwisata dan ekonomi masyarakat. Keberadaan geosite ini menjadi bukti bahwa Bojonegoro tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil minyak dan gas, tetapi juga memiliki kekayaan warisan alam yang bernilai ilmiah, edukatif, dan budaya.

Belum ada komentar