KABUPATEN TUBAN, JAWA TIMUR – Peringatan Hari Kartini 2026 di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Tuban berlangsung khidmat, Selasa (21/4/2026). Upacara yang digelar di halaman kantor setempat itu menonjolkan peran perempuan, dengan mayoritas petugas upacara berasal dari kalangan ASN perempuan sebagai simbol semangat emansipasi.
Momentum tersebut juga diisi dengan pemberian penghargaan kepada aparatur sipil negara yang dinilai berprestasi dan inspiratif. Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Tuban, Umi Kulsum, secara langsung menyerahkan apresiasi kepada sembilan ASN dari berbagai bidang.
Salah satu penerima penghargaan adalah Pranata Humas Ahli Madya, Laidia Maryati. Ia mendapat pengakuan atas konsistensinya dalam menulis berita terbanyak di website Jatim Kemenag.go.id sepanjang 2025, dengan total 592 berita. Penghargaan tersebut ditandatangani oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur.
Selain itu, delapan ASN lainnya turut menerima penghargaan sebagai pegawai inspiratif, yakni Moh Anshori, Sulikan, Khoirul Fata, Zainul Aminin, Abu Na’im, Mahendra Hendi Saputra, Sindi Lisdiani, dan Endang Budiarti. Mereka berasal dari berbagai unit kerja, mulai dari Pendidikan Madrasah, Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Bimbingan Masyarakat Islam hingga Subbag Tata Usaha.
Penghargaan ini di berikan kpd ASN yg dedikasi dan kinerjanya bagus dan nanti akan di ikuti oleh ASN yg lainnya yg setiap saat dinilai kinerjanya oleh pimpinan.
Umi Kulsum juga memberikan apresiasi terhadap keterlibatan perempuan dalam pelaksanaan upacara. Menurutnya, dominasi petugas perempuan menjadi bukti bahwa semangat Kartini terus relevan dan hidup dalam peran perempuan masa kini.
Dalam amanatnya, Umi Kulsum menyampaikan bahwa sosok Raden Ajeng Kartini tidak lagi sekadar simbol perjuangan literasi dan emansipasi di masa lalu, melainkan telah menjadi kompas moral bagi perempuan Indonesia dalam menghadapi arus globalisasi. “Di era digital tanpa sekat ini, peran Kartini modern telah berkembang ke ranah yang lebih luas,” ujarnya.
Ia memaparkan sejumlah peran strategis perempuan di era globalisasi. Pertama, sebagai pelopor literasi digital dan edukasi, di mana perempuan didorong menguasai bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Kedua, sebagai penggerak ekonomi kreatif dan UMKM dengan memanfaatkan platform digital untuk memperluas pasar hingga tingkat internasional.
Ketiga, perempuan berperan sebagai penjaga etika dan nilai budaya di tengah derasnya arus globalisasi. Keempat, sebagai pemimpin dalam pengambilan keputusan, seiring meningkatnya representasi perempuan di berbagai sektor, mulai dari birokrasi hingga politik.
Menurutnya, semangat “Habis Gelap Terbitlah Terang” kini dapat dimaknai sebagai upaya membuka akses informasi dan peluang yang sebelumnya terbatas, menjadi ruang yang penuh potensi bagi perempuan Indonesia untuk berkembang dan berkontribusi lebih luas.

Belum ada komentar