KABUPATEN BOJONEGORO, JAWA TIMUR – Ambisi menjadikan Kecamatan Dander sebagai sentra alpukat sekaligus embrio agrowisata mulai retak sebelum benar-benar tumbuh. Program penanaman alpukat bantuan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bojonegoro kini tersendat. Masalahnya klasik, tapi krusial: air.
Di lapangan, optimisme berubah menjadi kegelisahan. Para petani menghadapi kenyataan pahit-bibit sudah ditanam, tetapi pasokan air tak kunjung memadai.
Ketua Gapoktan Dander “Sumber Makmur”, M. Hari Mulyadi, mengungkapkan bahwa sistem pengelolaan lahan alpukat dibagi menjadi dua wilayah. Area barat Sungai Cino Mati hingga eks lapangan golf dikelola oleh pengurus Gapoktan, sementara wilayah timur ditangani oleh 17 petani yang tergabung dalam enam kelompok tani (Poktan).
“Total awalnya ada sekitar 2.000 petani dari enam Poktan, tapi sekarang jumlahnya mulai menyusut,” ujarnya.
Penyusutan itu bukan tanpa sebab. Minimnya air membuat petani mulai ragu bertahan. Bibit alpukat yang membutuhkan perawatan intensif justru ditanam di tengah ketidakpastian sumber daya paling vital.
“Kami sedang mengajukan bantuan sistem irigasi (Sibel) ke Pemkab, karena tanpa air yang cukup, tanaman ini sulit berkembang,” tambahnya.
Persoalan tak berhenti di situ. Sebagian besar petani di kawasan tersebut belum memiliki pengalaman dalam budidaya alpukat. Artinya, program ini sejak awal sudah berjalan di atas dua risiko: keterbatasan teknis dan krisis sumber daya.
Di sisi lain, Administratur (ADM) Perhutani Bojonegoro, Juwanto, menyatakan pihaknya tidak akan tinggal diam.
“Kami akan dampingi petani. Harapannya penanaman alpukat ini bisa berhasil, bahkan ke depan bisa dikembangkan menjadi agrowisata yang memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat,” jelasnya.
Namun pendampingan saja tidak cukup jika persoalan mendasar tak disentuh. Air tetap menjadi penentu hidup-matinya program ini.
Ancaman yang lebih besar bahkan sudah di depan mata. Prediksi kondisi iklim menunjukkan Bumi Angkling Darma pada 2026 berpotensi mengalami kekeringan. Jika skenario itu terjadi tanpa langkah konkret dari pemerintah daerah, program alpukat di Dander bukan hanya terancam gagal-tetapi bisa berubah menjadi bumerang bagi para petani yang sudah terlanjur menanam.
Bibit bisa mati. Modal bisa hilang. Kepercayaan petani terhadap program pemerintah pun bisa runtuh.
Tanpa intervensi serius, proyek yang digadang-gadang menjadi lumbung ekonomi baru itu berisiko berhenti sebagai sekadar wacana-tumbuh di atas kertas, layu di lapangan.

Belum ada komentar