KOTA SURABAYA, JAWA TIMUR – Persiapan menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2027 mulai bergulir. Sebanyak 24 tim rugby dari sejumlah daerah di Jawa Timur ambil bagian dalam Surabaya Rising Champion (RSC) 2026 di Lapangan Thor Surabaya, 7–10 Oktober 2026.
RSC 2026 tidak sekadar menjadi arena perebutan gelar juara. Kejuaraan ini sekaligus menjadi ruang kompetitif untuk mengukur kemampuan atlet, memperbanyak jam terbang, sekaligus memetakan talenta yang berpotensi diproyeksikan menghadapi Porprov Jatim 2027.
Ketua PRUI Kota Surabaya, Herlina Harsono Nyoto, mengatakan kompetisi berperan penting dalam membangun pengalaman sekaligus mengukur perkembangan atlet. Menurutnya, intensitas pertandingan akan membantu pelatih melihat kemampuan pemain secara lebih objektif.
“RSC ini kami dorong bukan hanya sebagai pertandingan, tetapi juga bagian dari pembinaan. Kalau Porprov 2027 berlangsung di Surabaya, tentu kita harus menyiapkan atlet sejak sekarang,” kata Herlina.
Ia menilai pengalaman bertanding menjadi modal penting sebelum atlet menghadapi kompetisi dengan tekanan yang lebih tinggi. Karena itu, RSC diharapkan mampu membentuk mental kompetitif sekaligus memperluas pengalaman pemain.
Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Unesa sekaligus pengurus PRUI Jawa Timur, Irmantara Subagyo, menyebut rugby memiliki ruang pertumbuhan yang cukup besar di Jawa Timur. Terlebih, cabang olahraga tersebut akan dipertandingkan dalam Porprov Jatim 2027.
Menurut Irmantara, posisi rugby sebagai cabang olahraga yang relatif baru justru memberikan peluang bagi daerah untuk menemukan dan mengembangkan talenta baru. Kompetisi menjadi salah satu instrumen penting untuk mengidentifikasi atlet yang memiliki kapasitas berkembang lebih jauh.
“Peluangnya masih sangat terbuka. Kita berharap dari kompetisi ini muncul atlet-atlet potensial yang bisa terus dibina dan nantinya menjadi bagian dari kekuatan Jawa Timur,” ujarnya.
Kepala Bidang Olahraga Prestasi Disbudporapar Kota Surabaya, Indriatno Heryawan, mengingatkan peserta agar menjadikan RSC sebagai momentum evaluasi kemampuan, bukan semata mengejar kemenangan.
“Rugby memang olahraga yang melibatkan kontak fisik, tetapi bukan berarti mengabaikan keamanan. Tampil maksimal boleh, mengejar kemenangan penting, namun keselamatan, sportivitas dan kebersamaan tetap harus dikedepankan,” tuturnya.
Ketua Panitia RSC 2026, Imam Haromain, menyebut 24 tim peserta berasal dari Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Kota Malang, Kabupaten Magetan, Kabupaten Pamekasan, Kabupaten Bojonegoro, serta SMADA Sekolah Taruna.
Kejuaraan tersebut mempertandingkan delapan kelas dalam nomor X, 7s, T1, dan 10s, masing-masing untuk kategori putra dan putri. Format pertandingan yang beragam memberikan ruang lebih luas bagi atlet untuk menguji kemampuan sekaligus strategi permainan.
Pembukaan RSC 2026 ditandai dengan menyanyikan Indonesia Raya dan Mars Patriot Olahraga, dilanjutkan sambutan sejumlah pemangku kepentingan olahraga. Prosesi kemudian ditutup dengan pemukulan gong oleh Ketua PRUI Kota Surabaya, Herlina Harsono Nyoto.
Sejumlah tokoh olahraga turut hadir, antara lain Sekretaris Umum KONI Surabaya Dr. Randika Asiani, Sekretaris PRUI Jawa Timur Rizky Satrio Utomo, serta jajaran pengurus PRUI Kota Surabaya.
Keberadaan mereka menunjukkan semakin kuatnya perhatian terhadap pengembangan rugby di Jawa Timur. Di tengah persaingan antardaerah, RSC 2026 menjadi salah satu ruang penting untuk menguji kesiapan atlet sekaligus membaca peta kekuatan menuju Porprov Jatim 2027.
Dari Lapangan Thor Surabaya, persaingan itu bukan hanya tentang siapa yang mengangkat trofi. Lebih dari itu, RSC 2026 menjadi bagian dari proses panjang membangun atlet, menemukan talenta, dan menyiapkan kekuatan rugby Jawa Timur menghadapi panggung olahraga provinsi.

Belum ada komentar