Polemik MBG Menguji Sikap Terbuka Pemerintah Dalam Merespons Kritik

Foto: Ketua JMSI Kabupaten Bojonegoro Ririm Wedia kritik MBG.(Ilustrasi)
beritakeadilan.com,

KABUPATEN BOJONEGORO, JAWA TIMUR-Gelombang sorotan publik terhadap dinamika pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyingkap persoalan fundamental mengenai sejauh mana transparansi dan keterbukaan pemerintah dalam merespons evaluasi masyarakat. Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Bojonegoro, Ririn Wedia, menegaskan bahwa serangkaian kritik objektif yang datang dari orang tua murid, tenaga pendidik, maupun insan pers sejatinya merupakan instrumen pengawasan sosial yang sangat krusial. Kehadiran suara kritis tersebut berfokus pada jaminan keselamatan serta kualitas gizi jutaan anak penerima manfaat, sehingga sama sekali tidak tepat apabila langsung dicap sebagai upaya memperkeruh suasana atau memperlambat realisasi program di lapangan.

Pernyataan bernada defensif yang mengemuka dari tingkatan pejabat pusat memicu diskursus hangat mengenai iklim kebebasan berpendapat dan profesionalisme tata kelola anggaran publik. JMSI Bojonegoro menilai pemerintah beserta instansi teknis terkait semestinya tidak menjawab setiap kekhawatiran masyarakat dengan sekadar pembelaan verbal atau bantahan sepihak tanpa disertai keterbukaan data yang valid. Apabila muncul indikasi gangguan distribusi, keraguan standar higienitas, hingga kendala operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), mekanisme pemeriksaan yang akuntabel dan penyampaian fakta secara jujur justru menjadi jawaban tunggal untuk memulihkan kepercayaan publik.

Pers nasional senantiasa menjalankan fungsi kontrol sosial secara independen dan bermartabat dengan berpedoman teguh pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers serta Kode Etik Jurnalistik. Dalam memberitakan dinamika MBG, media massa berkomitmen mengedepankan asas praduga tidak bersalah, melakukan konfirmasi berimbang, serta menyediakan ruang klarifikasi yang proporsional bagi pengambil kebijakan. Kehadiran liputan jurnalistik yang faktual dan tajam tidak bertujuan meruntuhkan program pemerintah, melainkan memastikan seluruh alokasi sumber daya negara benar-benar terdistribusi secara tepat guna tanpa menyisakan celah penyimpangan.

Ukur keberhasilan program strategis berskala nasional ini pada akhirnya tidak boleh berhenti pada lembar laporan kuantitatif mengenai berapa juta porsi makanan yang telah dibagikan. Parameter utama keselamatan masyarakat terletak pada jaminan keamanan pangan, transparansi rantai pasok, dan ketataan penuh terhadap standar operasional prosedur. Sinergi yang saling menghormati antara pemerintah, masyarakat, dan media massa dalam satu koridor pengawasan yang transparan akan menjadi benteng terkuat agar tujuan luhur pemenuhan gizi generasi muda dapat tercapai tanpa mengorbankan integritas tata kelola publik.

Belum ada komentar