HUMBAHAS, SUMATERA UTARA – Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) bersama sejumlah pemangku kepentingan menggelar rapat konsultasi publik penyusunan Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal (RAD-PGBPSDL), Selasa (27/10/2026).
Kegiatan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, di antaranya tokoh masyarakat Erikson Simbolon, Wakil Rektor I Universitas Talenta (UNITA) Marbun, Dekan Fakultas Hukum UNITA Herlina Panggabean, STIKes Kesehatan Baru Doloksanggul, serta sejumlah organisasi perangkat daerah terkait. Rapat juga diikuti secara daring melalui Zoom oleh Bapperida Provinsi Sumatera Utara, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sumut, serta Dinas Kesehatan Sumut.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Humbahas, Martogi Purba, yang mewakili Bupati Humbahas, menyampaikan bahwa konsultasi publik tersebut memiliki peran penting dalam menyusun RAD-PGBPSDL yang terarah, terukur, dan dapat diimplementasikan. Dokumen tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi perencanaan administratif, tetapi menjadi pedoman bersama dalam memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kualitas gizi masyarakat.
Menurutnya, penyusunan rencana aksi ini sejalan dengan arah kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, yang menitikberatkan pada swasembada pangan, penurunan stunting, diversifikasi pangan berbasis potensi lokal, serta dukungan terhadap program makan bergizi.
Martogi menjelaskan, berdasarkan data yang dipaparkan dalam rapat, Indeks Ketahanan Pangan Kabupaten Humbahas tercatat sebesar 81,16 pada 2024 dan 79,03 pada 2025. Sementara itu, Skor Pola Pangan Harapan mencapai 83,90. Data tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan daerah memiliki fondasi yang cukup baik, meskipun masih diperlukan upaya untuk meningkatkan kualitas konsumsi pangan masyarakat agar lebih beragam, bergizi, seimbang, dan aman.
“Kita patut bersyukur karena Kabupaten Humbahas memiliki potensi sumber daya lokal yang sangat besar. Pada sektor hortikultura, kita memiliki komoditas unggulan seperti cabai, bawang merah, bawang putih, dan kentang. Pada sektor tanaman pangan terdapat padi dan jagung, sedangkan pada sektor perkebunan terdapat kopi, kemenyan, dan andaliman yang menjadi ciri khas daerah kita,” ujar Martogi.
Ia menegaskan bahwa potensi tersebut harus menjadi kekuatan utama dalam membangun ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan sektor pangan, katanya, tidak boleh hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga perlu mendorong penciptaan nilai tambah, hilirisasi produk lokal, dan diversifikasi konsumsi pangan.
Sejumlah tantangan juga menjadi perhatian bersama, antara lain pola konsumsi masyarakat yang belum sepenuhnya beragam, ketergantungan terhadap jenis pangan tertentu, ancaman perubahan iklim terhadap produksi pertanian, serta perlunya percepatan penurunan stunting melalui program yang terintegrasi.
Karena itu, arah kebijakan ke depan perlu difokuskan pada penguatan ketahanan pangan berbasis potensi lokal, peningkatan produktivitas pertanian, pengembangan pangan lokal bergizi, serta penguatan intervensi gizi spesifik dan sensitif. Pengembangan pangan lokal juga diharapkan dapat mendukung program makan bergizi sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Martogi menambahkan, keberhasilan program tersebut membutuhkan kerja sama terpadu seluruh perangkat daerah. Pemerintah desa, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat juga harus terlibat aktif agar pelaksanaan program pangan dan gizi berjalan efektif serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kita perlu menghadirkan inovasi dan langkah nyata agar potensi lokal yang kita miliki benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Produk-produk unggulan daerah harus mampu menjadi sumber pertumbuhan ekonomi sekaligus mendukung ketahanan pangan dan perbaikan gizi masyarakat,” ungkapnya.
Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat komitmen dan kerja sama untuk mewujudkan Kabupaten Humbang Hasundutan yang mandiri pangan, sehat, dan sejahtera melalui pemanfaatan potensi sumber daya lokal secara optimal.

Belum ada komentar