Masuk Kawasan Hutan, Bhayangkari Bojonegoro Genjot Tumpangsari

Foto: Yayasan Kemala Bhayangkari Polres Bojonegoro
beritakeadilan.com,

KABUPATEN BOJONEGORO, JAWA TIMUR – Upaya memperkuat ketahanan pangan berbasis kehutanan kembali digerakkan. Yayasan Kemala Bhayangkari Polres Bojonegoro, bersama Perum Perhutani KPH Bojonegoro dan kelompok tani, menggelar penanaman jagung dan ketela di kawasan hutan Petak 127b, RPH Sampang, BKPH Dander, Kamis (16/3/2026).

Kegiatan yang berlangsung pukul 08.30 hingga 10.00 WIB ini merupakan bagian dari skema kolaborasi lintas sektor untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan hutan melalui sistem tumpangsari, tanpa mengesampingkan fungsi ekologisnya. Model ini menempatkan hutan tidak semata sebagai kawasan lindung, tetapi juga ruang produksi yang terkelola.

Wakil Administratur Bojonegoro Barat Perum Perhutani, Kiswanto SH, menyatakan dukungan institusinya terhadap inisiatif tersebut. “Ini menjadi bentuk sinergi yang baik. Perhutani membuka akses kelola bagi masyarakat melalui sistem tumpangsari agar lahan hutan tetap produktif dan memberikan manfaat ekonomi,” ujarnya.

Dalam kegiatan itu, dilakukan pula penandatanganan kerja sama pemanfaatan lahan tumpangsari antara Perhutani dan para pemangku kepentingan. Kesepakatan ini menjadi landasan formal dalam pengelolaan bersama kawasan hutan berbasis kemitraan.

Selain penanaman, Yayasan Kemala Bhayangkari menyalurkan bantuan berupa benih jagung dan ketela, pupuk, serta sarana prasarana pertanian kepada kelompok tani Desa Buntalan. Dukungan tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas produksi sekaligus menjaga keberlanjutan usaha tani di sekitar kawasan hutan.

Penanaman dilakukan secara simbolis sebelum dilanjutkan secara kolektif oleh seluruh peserta. Mereka terdiri atas jajaran Yayasan Kemala Bhayangkari sebagai penggagas, Polres Bojonegoro sebagai pendamping, pemerintah kecamatan dan desa, LMDH Jati Sampang, serta kelompok tani setempat.

Kegiatan ini mencerminkan pendekatan integratif dalam pengelolaan hutan—memadukan kepentingan konservasi dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Harapannya, kawasan hutan tetap terjaga, sekaligus menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan.

Di bawah cuaca cerah, seluruh rangkaian acara berlangsung tanpa kendala. Kolaborasi antara Bhayangkari, Perhutani, aparat, dan masyarakat ini menjadi indikator bahwa pengelolaan hutan produktif dapat dijalankan secara sinergis dan terukur.

Belum ada komentar