Semarak Hari Santri 2026, Produk Warga Binaan Rutan Surabaya Laris di Bazar UMKM Sidoarjo

Produk makanan hasil karya Warga Binaan Rutan Kelas I Surabaya dipasarkan dalam Bazar UMKM Semarak Hari Santri 2026 di GOR Sidoarjo.
beritakeadilan.com,

SURABAYA, JAWA TIMUR – Produk makanan olahan hasil karya Warga Binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Surabaya mendapat sambutan positif masyarakat dalam kegiatan Semarak Hari Santri dan Bazar UMKM yang diselenggarakan Radar Sidoarjo di Parkir Timur GOR Sidoarjo, Minggu (25/10/2026). Sebanyak 53 produk berhasil terjual selama kegiatan berlangsung.

Keikutsertaan Rutan Kelas I Surabaya dalam bazar tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan hasil pembinaan keterampilan Warga Binaan sekaligus membuka peluang pemasaran produk kepada masyarakat luas.

Berbagai produk makanan olahan ditampilkan di stan Rutan Kelas I Surabaya, mulai dari donat, roti gulung abon, bakpao, hingga sambal. Produk-produk tersebut merupakan hasil karya Warga Binaan yang diproduksi dengan pendampingan petugas sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian.

Antusiasme pengunjung terhadap produk yang ditawarkan terbilang tinggi. Sejumlah produk menarik perhatian masyarakat dan dibeli selama bazar berlangsung. Total 53 produk berhasil terjual, menjadi salah satu indikator penerimaan positif masyarakat terhadap hasil karya Warga Binaan.

Foto: Produk makanan hasil karya Warga Binaan Rutan Kelas I Surabaya dipasarkan dalam Bazar UMKM Semarak Hari Santri 2026 di GOR Sidoarjo.
Foto: Produk makanan hasil karya Warga Binaan Rutan Kelas I Surabaya dipasarkan dalam Bazar UMKM Semarak Hari Santri 2026 di GOR Sidoarjo.

Respons positif juga datang dari konsumen yang menilai kualitas produk cukup baik, terutama cita rasa dan tekstur donat. Produk tersebut dinilai enak dan mampu bersaing dengan produk sejenis yang tersedia di pusat perbelanjaan.

Tak hanya menarik minat pengunjung umum, produk hasil karya Warga Binaan juga mendapat perhatian dari Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Sidoarjo sekaligus Ketua DPC PKB Kabupaten Sidoarjo, Rizza Ali Faizin, yang turut membeli produk yang dipasarkan.

Capaian tersebut memperlihatkan bahwa produk hasil pembinaan di dalam rutan memiliki peluang untuk diterima pasar apabila terus dikembangkan dengan memperhatikan kualitas, cita rasa, dan kebutuhan konsumen.

Kepala Subseksi Bimbingan Kegiatan Rutan Kelas I Surabaya, Imam Haidar Pratama, menyampaikan bahwa keikutsertaan dalam bazar merupakan kesempatan untuk memperkenalkan hasil pembinaan keterampilan Warga Binaan kepada masyarakat luas.

Produk yang dipasarkan merupakan hasil produksi Warga Binaan dengan pendampingan petugas. Melalui kegiatan tersebut, Warga Binaan tidak hanya memperoleh pengalaman kerja dan keterampilan praktis, tetapi juga didorong untuk mengembangkan kemampuan produktif yang dapat dimanfaatkan setelah menyelesaikan masa pembinaan.

Pembinaan kemandirian menjadi salah satu upaya mempersiapkan Warga Binaan agar mampu menjalani kehidupan yang lebih mandiri ketika kembali ke tengah masyarakat. Keterampilan mengolah makanan, menjaga kualitas produk, serta mengenal pemasaran menjadi bekal penting untuk membuka peluang usaha maupun memasuki dunia kerja.

Partisipasi Rutan Kelas I Surabaya dalam Semarak Hari Santri dan Bazar UMKM tidak sekadar menjadi ajang promosi. Kegiatan ini juga memberikan ruang bagi Warga Binaan untuk menunjukkan kreativitas, kemampuan, dan hasil kerja yang memiliki nilai ekonomi.

Penjualan 53 produk selama bazar menjadi dorongan untuk terus meningkatkan kualitas produksi dan memperluas jangkauan pemasaran. Dukungan serta respons positif masyarakat diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan terhadap produk hasil pembinaan.

Melalui partisipasi dalam kegiatan serupa secara berkelanjutan, Rutan Kelas I Surabaya diharapkan mampu memperkuat program pembinaan kemandirian sekaligus membuka lebih banyak peluang bagi Warga Binaan untuk mengembangkan usaha secara produktif.

Dengan demikian, hasil pembinaan tidak berhenti pada penguasaan keterampilan selama berada di dalam rutan, tetapi juga dapat menjadi modal untuk membangun kehidupan yang lebih baik, mandiri, dan berkontribusi positif setelah kembali berintegrasi di tengah masyarakat.

Belum ada komentar