Kolaborasi SRPB dan Yayasan Resilien Indonesia, Relawan Jatim Siapkan Pesantren Siaga Bencana

Para trainer peserta dan panitia foto bersama setelah selesai pembukaan acara
beritakeadilan.com,

KABUPATEN MOJOKERTO, JAWA TIMUR – Penguatan kesiapsiagaan bencana di lingkungan pesantren membutuhkan fasilitator yang mampu mendampingi dan membangun kesadaran keselamatan secara berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan Sekretariat Bersama Relawan Penanggulangan Bencana (SRPB) Jawa Timur bersama Yayasan Resilien Indonesia melalui Training of Facilitators Pesantren Tangguh Bencana (ToF PESTANA) Batch 1 pada 16–18 Oktober 2026.

Sebanyak 32 pendaftar dari berbagai organisasi relawan di Jawa Timur mengikuti program yang dirancang untuk memperkuat kapasitas fasilitator dalam membantu pesantren mengenali ancaman, memetakan risiko, dan menyusun langkah kesiapsiagaan sesuai kondisi masing-masing lembaga.

Pelatihan berlangsung secara daring pada hari pertama, kemudian dilanjutkan dengan pembelajaran dan praktik lapangan selama dua hari di Vertical Rescue Accessina, Kemasan, Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Program ini merupakan hasil kolaborasi Yayasan Resilien Indonesia yang diketuai Diva Widyaningtyas, S.Psi., M.Psi., dengan SRPB Jawa Timur di bawah koordinasi Muhammad Asruri Syam. Sinergi tersebut mempertemukan pengalaman dan pengetahuan lintas organisasi untuk memperkuat peran relawan dalam membangun budaya sadar bencana di pesantren.

Materi pelatihan mencakup dasar-dasar pengurangan risiko bencana, konsep Pesantren Tangguh Bencana, tahapan pembentukan dan pendampingan, serta teknik fasilitasi partisipatif. Peserta juga menjalani praktik microteaching dan pengembangan simulasi aman, disertai pembekalan kajian risiko dan pemetaan, pertolongan pertama, serta dukungan psikologis awal.

Pendekatan tersebut mempertimbangkan karakteristik pesantren sebagai lingkungan pendidikan sekaligus tempat tinggal santri. Karena itu, kesiapsiagaan tidak hanya berfokus pada perlindungan fisik, tetapi juga memperhatikan kondisi psikologis serta kebutuhan pengasuh, pengurus, dan santri.

Panitia menghadirkan sejumlah narasumber lintas bidang, yakni Muhammad Asruri Syam, Koordinator SRPB Jawa Timur periode 2026–2029; Dadang Iqwandy, S.T., M.T., dari BPBD Jawa Timur; Dini Prastyo Wijayanti, S.Kep., Ns., M.Kep., dari Poltekkes Kerta Cendikia Sidoarjo; serta Mohammad Mahfud, S.Akun., M.M.B., dari Rumah Zakat Kediri.

Di sisi lain, penyelenggaraan kegiatan ini juga mencerminkan semangat gotong royong dalam gerakan kerelawanan. Meski pada tahap awal belum memiliki dana khusus maupun kepanitiaan konvensional, kegiatan disiapkan melalui pembagian peran dan dukungan tenaga, pengetahuan, serta sumber daya dari para peserta dan pihak terkait.

Proses awal pendaftaran turut difasilitasi Hendro Pandu dari Bagana Jawa Timur pada bidang Pendidikan dan Pengembangan Kapasitas SRPB. Keterlibatan berbagai pihak tersebut menjadi bagian dari praktik kolaborasi dalam menjalankan kegiatan kemanusiaan.

Pasca pelatihan, peserta diarahkan menyusun Rencana Pendampingan PESTANA untuk periode tiga hingga enam bulan. Rencana tersebut meliputi penentuan pesantren sasaran, identifikasi kebutuhan awal, tahapan pendampingan, pembagian tanggung jawab, kebutuhan sumber daya, dan indikator keberhasilan program.

Peserta juga didorong menjalin kemitraan dengan pengurus pesantren, BPBD, puskesmas, pemadam kebakaran, pemerintah desa atau kelurahan, serta organisasi relawan. Kemitraan ini diharapkan memperkuat dukungan lintas sektor dalam pelaksanaan program sesuai kebutuhan dan kesepakatan bersama.

Melalui ToF PESTANA Batch 1, SRPB Jawa Timur dan Yayasan Resilien Indonesia menargetkan terbentuknya fasilitator yang tidak hanya menguasai materi kebencanaan, tetapi juga mampu mendampingi pesantren secara partisipatif dan berkelanjutan. Dengan demikian, kesiapsiagaan diharapkan tumbuh dari komunitas pesantren sendiri untuk melindungi seluruh warganya ketika bencana terjadi.

Belum ada komentar