Dari Pitutur Samin ke Pasar, Obor Sewu Menggerakkan Ekonomi Warga Bojonegoro

Dari Pitutur Samin ke Pasar, Obor Sewu Menggerakkan Ekonomi Warga Bojonegoro (dok: ilustrasi)
beritakeadilan.com,

KABUPATEN BOJONEGORO, JAWA TIMUR – Sebuah motif batik tidak selalu berhenti sebagai ornamen pada selembar kain. Di Bojonegoro, Obor Sewu berkembang menjadi medium untuk memperkenalkan identitas masyarakat Samin sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi bagi warga yang memproduksinya.

Motif tersebut menjadi bagian dari Pakaian Dinas Harian (PDH) Adat Samin yang digunakan aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Kebijakan itu tidak hanya menempatkan unsur budaya lokal dalam ruang birokrasi, tetapi turut memperluas pengenalan Obor Sewu kepada masyarakat di luar komunitas Samin.

Penggunaan PDH Adat Samin tertuang dalam Surat Edaran (SE) Bupati Bojonegoro Nomor 065/378/412.032/2025 tentang Penggunaan Pakaian Dinas Harian (PDH) Adat Samin di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro Tahun 2025.

Kebijakan tersebut merupakan bagian dari agenda pemajuan kebudayaan daerah. Dalam visi Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, penguatan budaya ditempatkan sebagai bagian dari upaya mewujudkan Bojonegoro yang makmur dan membanggakan. Program tersebut juga masuk dalam sembilan prioritas Bupati Bojonegoro periode 2025-2030, khususnya agenda pemajuan seni dan budaya daerah.

Obor Sewu sendiri memiliki akar yang kuat dalam sejarah masyarakat Samin di Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo. Motif tersebut tidak hanya dibentuk untuk menghadirkan corak visual, tetapi membawa narasi mengenai perjalanan Samin Surosentiko dan nilai-nilai yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Bambang Sutrisno, penerus sesepuh Sedulur Sikep Samin, menjelaskan bahwa nama Obor Sewu berkaitan dengan kisah ketika Samin Surosentiko menghimpun para pengikutnya. Pada masa itu, obor digunakan sebagai sumber penerangan.

“Obor itu lampu, sewu itu bermakna banyak. Jadi cita-citanya bagaimana agar pitutur Mbah Samin menjadi penerang generasi selanjutnya,” ujar Bambang saat dikonfirmasi pada Rabu (23/9/2026).

Filosofi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam nilai kehidupan masyarakat Samin, antara lain kejujuran, kesabaran, sikap menerima keadaan atau nrimo, serta trokal. Istilah terakhir merujuk pada semangat untuk tidak mudah menyerah dan tetap berusaha menghadapi kehidupan.

Bagi komunitas Samin, Obor Sewu dengan demikian memiliki dua lapisan makna. Pada permukaan, ia tampil sebagai motif batik; sementara di balik coraknya terdapat narasi mengenai sejarah, ajaran, serta pandangan hidup masyarakat Samin.

Pengenalan terhadap motif itu juga berlangsung melalui berbagai kegiatan kebudayaan. Komunitas Samin di Dusun Jepang, Margomulyo, bahkan menjadi salah satu objek yang dikunjungi asesor UNESCO dalam rangkaian proses penilaian UNESCO Global Geopark (UGGp) Bojonegoro.

Dalam kunjungan tersebut, para asesor melihat langsung aktivitas membatik, pertunjukan karawitan, serta memperoleh penjelasan mengenai sejarah dan ajaran masyarakat Samin. Bambang menyebut asesor dari Jerman dan China menghabiskan waktu lebih dari dua jam di lingkungan komunitas tersebut.

“Mereka menikmati proses batik, proses karawitan dan cerita sejarah ajaran Samin,” katanya.

Perubahan paling terasa terjadi setelah Obor Sewu digunakan sebagai bagian dari pakaian dinas ASN. Motif yang sebelumnya lebih banyak beredar di lingkungan komunitas Samin mulai dikenal oleh masyarakat yang lebih luas.

Menurut Bambang, meningkatnya eksposur tersebut membuat pertanyaan mengenai sejarah dan filosofi Obor Sewu semakin sering muncul. Pengenalan budaya kemudian berjalan beriringan dengan peningkatan kebutuhan terhadap produk batiknya.

“Dampaknya sangat luar biasa. Setelah menjadi PDH ASN, banyak orang yang mulai tertarik dengan filosofi Obor Sewu, sejarah masyarakat Samin, termasuk ajaran dan adat yang sampai sekarang masih kami pertahankan,” ujarnya.

Sebelum kebijakan PDH ASN diterapkan, Obor Sewu tidak dipasarkan secara luas melalui pasar umum. Orang yang ingin memperoleh kain tersebut biasanya datang langsung ke komunitas Samin di Dusun Jepang.

Pola tersebut sebelumnya memang dimaksudkan untuk menjaga hubungan antara produk batik dan komunitas asalnya. Bagi masyarakat Samin, kedatangan pembeli ke Dusun Jepang juga memiliki nilai tersendiri karena sekaligus mempertemukan konsumen dengan ruang budaya tempat Obor Sewu dilahirkan.

“Dulu kita konsep bahwa Obor Sewu tidak dijual di pasar luar. Artinya, orang yang ingin Obor Sewu harus datang ke komunitas masyarakat Samin. Jadi, bisa menjadi sebuah kebanggaan bagi mereka yang memakai Obor Sewu karena sebagai bukti beliau sudah pernah datang ke komunitas masyarakat Samin,” tutur Bambang.

Ketika penggunaannya meluas, konsekuensi ekonominya ikut terasa. Permintaan terhadap kain Obor Sewu meningkat dan melibatkan lebih banyak tenaga dalam rantai produksinya, mulai dari pembatik hingga penjahit.

Pada periode permintaan tinggi, lebih dari 50 orang sempat terlibat dalam kegiatan membatik dan menjahit. Saat ini, sekitar 30-40 orang masih terlibat dalam proses produksi tersebut.

Pembatiknya tetap berasal dari masyarakat Samin di Margomulyo. Adapun pekerjaan menjahit dapat melibatkan warga dari wilayah lain, termasuk Kecamatan Ngraho. Dengan pola tersebut, peningkatan permintaan terhadap Obor Sewu tidak hanya berdampak pada perajin batik, tetapi juga menciptakan pekerjaan pada tahap produksi berikutnya.

Harga produknya juga relatif beragam. Kain Obor Sewu berada di kisaran Rp160 ribu, udheng sekitar Rp70 ribu, sedangkan selendang dijual sekitar Rp40 ribu.

Permintaan juga merambah lingkungan pendidikan. Salah satu perguruan tinggi di Bojonegoro mengenalkan Obor Sewu kepada mahasiswa baru dengan menggunakan selendang bagi mahasiswa perempuan dan udheng bagi mahasiswa laki-laki dalam kegiatan pengenalan mahasiswa baru.

Perluasan pasar tersebut tidak serta-merta mengubah ketentuan mengenai asal produksi motif. Obor Sewu telah tercatat dalam Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dengan nomor pencatatan 000160986. Produksinya tetap diarahkan kepada masyarakat Samin di Margomulyo sebagai bagian dari upaya mempertahankan keaslian sekaligus karakter budaya motif tersebut.

Ketika permintaan sempat melonjak, paguyuban batik di Bojonegoro turut membantu memenuhi kebutuhan produksi berdasarkan kesepakatan bersama. Namun, setelah kebutuhan tersebut terpenuhi, pengerjaan kembali dipusatkan kepada masyarakat Samin.

Perkembangan itu juga membuka ruang regenerasi keterampilan. Sebagian warga Samin yang sebelumnya belum memiliki kemampuan membatik mulai tertarik mempelajarinya ketika kebutuhan produksi meningkat.

Saat ini, pesanan Obor Sewu masih datang dengan rata-rata satu hingga dua pesanan setiap hari. Angka tersebut memang tidak semata-mata menggambarkan besarnya industri, tetapi menunjukkan adanya kesinambungan permintaan terhadap produk yang sekaligus berfungsi sebagai artefak budaya.

Bagi masyarakat Samin, perkembangan Obor Sewu menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus berjalan terpisah dari aktivitas ekonomi. Ketika motif tersebut digunakan, dipelajari, dan diproduksi, sejarah serta nilai yang melekat di dalamnya ikut memperoleh ruang untuk dikenal lebih luas.

Obor Sewu pada akhirnya tidak hanya hadir sebagai corak pada kain atau bagian dari pakaian dinas. Ia menjadi titik temu antara identitas budaya, pendidikan, pelestarian tradisi, dan penghidupan masyarakat yang mempertahankan keterampilan membatik dari generasi ke generasi.

Belum ada komentar