JAKARTA SELATAN, DKI JAKARTA – Pelantikan pengurus, Rapat Kerja Nasional (Rakernas), dan seminar nasional Ikatan Alumni Resimen Mahasiswa Indonesia (IARMI) tidak diarahkan berhenti sebagai agenda seremonial organisasi. Rangkaian kegiatan DPN IARMI pada 25–27 September 2026 di Jakarta itu mendorong gagasan agar nilai bela negara diterjemahkan menjadi pengabdian nyata di tengah masyarakat, termasuk melalui pembangunan dan pemberdayaan desa.
Rangkaian kegiatan yang berlangsung di IPDN Kampus Cilandak, Jakarta Selatan, tersebut diikuti delegasi dari 32 DPP IARMI dan ratusan DPK IARMI kabupaten/kota. Alumni Menwa, mahasiswa, perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, organisasi kepemudaan, komunitas, serta sejumlah mitra strategis turut terlibat dalam agenda tersebut.
Di bawah kepemimpinan Ketua Umum DPN IARMI Prof. Bahrullah Akbar, Guru Besar IPDN sekaligus Komisaris Bank Syariah Nasional, dan Sekretaris Jenderal DPN IARMI Ir. A. Riza Patria, M.B.A., yang juga Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal RI, konsolidasi nasional itu menjadi momentum untuk menyusun arah kontribusi organisasi pada periode kepengurusan 2025–2030.
Gagasan yang ditekankan IARMI adalah memperluas pemaknaan bela negara. Kontribusi terhadap negara tidak semata ditempatkan dalam konteks pertahanan maupun kegiatan seremonial, tetapi juga melalui pendidikan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ketahanan sosial dan ekonomi, pelestarian lingkungan, pengembangan teknologi, serta keterlibatan dalam pembangunan masyarakat.
Dalam kerangka tersebut, desa menjadi salah satu ruang pengabdian yang mendapat perhatian. Desa bersentuhan langsung dengan berbagai persoalan pembangunan, mulai dari ketahanan pangan, kemiskinan, pendidikan, kesehatan, lingkungan, digitalisasi, kewirausahaan hingga penguatan ekonomi lokal.
Gagasan itu kemudian dirumuskan dalam konsep “IARMI Mengabdi untuk Desa”. Model pengabdian tersebut diarahkan untuk mempertemukan kapasitas alumni Menwa dengan mahasiswa, perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat melalui program berbasis pengetahuan, teknologi, kewirausahaan, serta pemberdayaan masyarakat.
Dimensi kebangsaan dalam rangkaian kegiatan tersebut diperkuat dengan kehadiran Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan RI Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago sebagai Inspektur Upacara sekaligus pemberi pengarahan kepada peserta. Menteri Dalam Negeri Jenderal Polisi (Purn) Muhammad Tito Karnavian juga hadir sebagai keynote speaker dalam Seminar Nasional Bela Negara.
Seminar bertema “Bela Negara dan Pengabdian Generasi Muda untuk Indonesia” itu turut menghadirkan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Brian Yuliarto, Ph.D.; Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Ir. A. Riza Patria, M.B.A.; serta Presiden Direktur PT Astra International Tbk Paulus Bambang Wijanarko sebagai pembicara.
Kehadiran para pembicara tersebut membawa perspektif yang berbeda, mulai dari pendidikan dan ilmu pengetahuan, pembangunan desa dan pemerintahan, hingga dunia usaha. Kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu pendekatan yang didorong agar gagasan bela negara dapat diterjemahkan ke dalam program yang memiliki dampak langsung bagi masyarakat.
Sementara itu, Rakernas menjadi forum untuk membahas arah gerak organisasi selama periode kepengurusan 2025–2030. Forum tersebut tidak hanya membahas konsolidasi internal, tetapi juga diarahkan menghasilkan rekomendasi mengenai bentuk pengabdian IARMI di tengah masyarakat.
Sejumlah keluaran yang ditargetkan dari rangkaian agenda tersebut antara lain Deklarasi Bela Negara Generasi Muda IARMI, rekomendasi nasional, model kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah, dunia usaha dan IARMI, serta rancangan pilot project “IARMI Mengabdi untuk Desa”.
Bagi keluarga besar alumni Resimen Mahasiswa, gagasan pengabdian tersebut memiliki pijakan pada nilai Widya Castrena Dharma Siddha, yang menempatkan ilmu dan kemampuan sebagai bagian dari pengabdian. Nilai tersebut kini dihadapkan pada kebutuhan untuk diterapkan dalam konteks persoalan masyarakat yang terus berkembang.
Pengalaman, disiplin, kepemimpinan, serta jejaring alumni Menwa menjadi modal yang hendak diarahkan untuk mendukung berbagai kebutuhan pembangunan. Dengan pendekatan kolaboratif, pengalaman organisasi tidak berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi dapat diterjemahkan menjadi kerja nyata bersama masyarakat.
Pada akhirnya, rangkaian kegiatan tiga hari tersebut membawa satu pesan utama: bela negara tidak berhenti pada seremoni. Nilai itu juga dapat diwujudkan melalui kerja-kerja sosial, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, inovasi, dan pengabdian langsung di tengah masyarakat.
Dari ruang sidang menuju lapangan, dari gagasan menuju program, dan dari organisasi menuju masyarakat, IARMI mendorong agar semangat bela negara memiliki bentuk yang lebih konkret. Desa menjadi salah satu titik awal untuk menguji sejauh mana gagasan pengabdian tersebut dapat diterjemahkan menjadi kerja yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Belum ada komentar