KABUPATEN TUBAN, JAWA TIMUR – Malam mulai turun ketika lampu-lampu di Alun-Alun Tuban menyala satu per satu. Di jantung kota yang dijuluki Bumi Wali itu, warga dan pelancong tampak berbaur menikmati suasana. Anak-anak berlarian di pelataran, pedagang kaki lima sibuk melayani pembeli, sementara pengunjung duduk santai memandangi wajah kota yang kini tampak semakin tertata.
Tuban bukan sekadar kota pesisir di jalur pantura Jawa Timur. Di balik hiruk-pikuk lalu lintas dan geliat kotanya, daerah ini menyimpan sejarah panjang yang masih hidup di tengah masyarakat.
Banyak kalangan menyebut Tuban sebagai salah satu kota tertua di Jawa Timur. Julukan itu bukan tanpa alasan. Kota ini dikenal memiliki keterkaitan erat dengan sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa, jejak para wali, hingga kisah kepemimpinan Adipati Ronggo Lawe yang melegenda.
Di kawasan alun-alun, nuansa sejarah itu seakan masih terasa. Masjid Agung Tuban berdiri megah di sisi barat alun-alun, menjadi penanda kuat identitas religius kota tersebut. Tak jauh dari pusat kota, makam Sunan Bonang juga menjadi tujuan ribuan peziarah dari berbagai daerah.
Martin, warga Tuban yang ditemui pewarta beritakeadilan.com di kawasan alun-alun, mengatakan kota kelahirannya memiliki banyak cerita yang sulit dipisahkan dari sejarah Jawa.
“Kalau sejarah Kota Tuban itu banyak sekali, Mas. Mulai dari wali songo, Ronggo Lawe, sampai cerita-cerita zaman dulu yang masih dipercaya masyarakat,” ujarnya, Kamis (14/5/2026).
Menurut dia, sejarah Tuban bukan sekadar cerita turun-temurun, melainkan bagian dari identitas masyarakat yang masih dijaga hingga sekarang.
“Kalau diceritakan semua, mungkin semalam tidak selesai,” katanya sambil tersenyum.
Tak hanya warga lokal, pesona Alun-Alun Tuban juga menarik perhatian pengunjung dari luar daerah. Rika, wisatawan asal luar kota yang datang bersama keluarganya, mengaku terkesan dengan suasana kota tersebut.
Ia mengatakan baru pertama kali mengunjungi Alun-Alun Tuban setelah mendengar cerita dari teman-temannya.
“Katanya suasananya bagus, ternyata memang indah. Kotanya terasa nyaman dan pemandangannya bikin betah,” ujarnya.
Belakangan, wajah pusat Kota Tuban memang terlihat semakin hidup, terutama pada malam hari. Area alun-alun yang tertata rapi membuat masyarakat menjadikannya sebagai ruang berkumpul sekaligus lokasi wisata murah meriah.
Di tengah modernisasi kota, Tuban seperti berupaya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan warisan sejarah. Identitas sebagai Bumi Wali tetap dipertahankan, sementara ruang publik terus dipercantik agar mampu menarik wisatawan.
Bagi sebagian orang, Tuban mungkin hanya kota persinggahan di jalur pantura. Namun bagi mereka yang datang dan menikmati suasananya lebih lama, kota ini menyimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar hamparan jalan pesisir.

Belum ada komentar