Kekuatan 2 Perguruan Silat Hingga Pengaruh Sosial Politiknya Dalam Pilwali Kota Madiun 2024

beritakeadilan.com,

KOTA MADIUN (Beritakeadilan, Jawa Timur) – Bagi orang luar, mungkin sulit memahami seberapa dalam pengaruh perguruan silat di Madiun. Namun, bagi warga Madiun, pencak silat jelas lebih dari sekadar soal bela diri—ini adalah identitas dan simbol solidaritas sosial. Kota ini dikenal memiliki 14 perguruan pencak silat besar dengan massa yang sangat besar dan memiliki pengaruh politik yang tidak bisa diabaikan.

Penulis Wiwin Dwi Jatmiko,SH. Ketua Bidang Organisasi Pencak Silat dan Tenaga Dalam Persaudaraan Rasa Tunggal Pusat Madiun.

Setia Hati Winongo Tunas Muda” dan “Setia Hati Teratai” adalah dua kekuatan besar yang bahkan bisa dibilang seperti “partai politik” dalam konteks lokal Kota Madiun. Maidi, yang cenderung dekat dengan Setia Hati Winongo, diyakini ingin mengandalkannya sebagai salah satu basis massa yang kuat. Winongo memang sering kali dianggap sebagai kelompok yang lebih konservatif dan pro-status quo. Relatif cocok dengan platform politik Maidi yang stabil.

Sementara itu, Bonnie Laksmana dikenal dekat dengan Setia Hati Teratai. Pasangannya, Bagus Riski, bahkan dikenal sebagai cucu dari tokoh pentingnya. Dukungan dari perguruan ini bisa menjadi faktor penentu, karena Setia Hati Teratai dikenal lebih vokal dan sering kali menjadi oposisi yang kritis terhadap pemerintah lokal. Namun Bonnie harus memanfaatkan dukungan ini secara bijak untuk menghindari benturan sosial yang terlalu tajam.

Di tengah persaingan itu, Inda Raya justru dapat mengambil pendekatan berbeda. Dengan tidak memiliki ikatan kuat dengan perguruan mana pun, ia bisa memilih untuk bergerilya dan membangun aliansi lintas perguruan. Strategi ini, selain dapat menghindari potensi konflik horizontal di kalangan para pendekar, juga dapat memastikan kampanyenya merangkul semua pihak.

Di Madiun, pencak silat adalah politik, dan politik adalah pencak silat. Tapi seperti kata pepatah Jawa, “sak madya-madyane ana kabeh, luwih becik sedulur tinimbang padu.” Politik yang baik adalah politik yang merangkul, bukan memecah belah. Sebuah narasi yang tengah bergaung pula secara nasional.

Di balik semua kalkulasi politik dan ekonomi, ada satu elemen yang lebih dalam yang membentuk watak warga Madiun: budaya Mataraman. Sebagai bagian dari wilayah budaya Mataraman, Madiun dikenal dengan tradisi yang kuat dalam menjaga tata nilai kebersamaan dan keharmonisan. Nilai-nilai ini tampak dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari cara warga bersosialisasi hingga cara mereka berpolitik.

Dalam konteks politik Pilkada Kota Madiun, budaya Mataraman menuntut keseimbangan antara ambisi pribadi dan kepentingan bersama. Warga Madiun, dengan falsafah hidup “Ajining dhiri gumantung ing lathi, ajining raga saka busana” (harga diri seseorang tergantung pada ucapannya, dan penghargaan fisik tergantung pada pakaiannya), cenderung menilai para calon berdasarkan integritas dan komitmen mereka terhadap kemajuan bersama.

Di sinilah tantangan terbesar para kandidat. Maidi, yang telah berada di panggung kekuasaan, harus mampu meyakinkan publik bahwa janji-janji yang belum terealisasi bukanlah wujud dari kealpaan, melainkan bagian dari proses menuju perbaikan yang lebih besar. Masyarakat yang lekat dengan nilai-nilai Mataraman sangat sensitif terhadap retorika kosong. Di sinilah kredibilitas Maidi akan diuji; apakah ia benar-benar bisa menjadi pemimpin yang melampaui retorika untuk membawa perubahan lebih nyata dan bermakna.

Bonnie Laksmana menghadapi dilema lain. Sebagai figur muda yang mewarisi nama besar tetapi juga kontroversial dari sang ayah, ia harus membuktikan bahwa dirinya membawa perubahan dan tidak sekadar melanjutkan oligarki lama. Strategi Bonnie untuk mendobrak sistem lama dengan visi baru juga harus menghindari benturan langsung dengan kultur lokal yang masih sangat menjunjung tinggi “unggah-ungguh” (sopan santun).

Inda Raya, yang membawa semangat reformasi, bisa jadi diuntungkan oleh persepsi sebagai pendatang baru yang menawarkan harapan. Namun, ia juga harus berhati-hati agar tidak dilihat sebagai calon yang hanya memanfaatkan retorika populis. Upayanya untuk merangkul berbagai elemen masyarakat, termasuk lintas perguruan silat, harus dirancang dengan kehati-hatian agar tidak dianggap sebagai upaya “jarkoni” (bisa ngajari, ora bisa nglakoni/bisa berkata, tapi tidak bisa melakukan).

Pilkada Madiun kali ini bukan sekadar perebutan kekuasaan lokal. Ini adalah ajang pertaruhan masa depan kota di antara dinamika politik, ekonomi, budaya, dan tradisi. Di satu sisi, ada keinginan untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai lokal yang sudah mengakar. Di sisi lain, ada kebutuhan mendesak untuk modernisasi dan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.

Pertarungan antara Maidi, Bonnie Laksmana, dan Inda Raya adalah cerminan dari kota yang mencoba mencari keseimbangan antara warisan masa lalu dan tuntutan masa depan. Seperti air bengawan yang mengalir deras, dinamika Pilkada Kota Madiun 2024 membawa arus perubahan yang bisa mengarahkan kota ini ke arah yang baru, dengan risiko atau berkah yang menunggu di setiap tikungan.

Wong kang sapa bisa angendangi banyu ing kali, iku bakal bisa mimpin praja kanthi leres.” (Barang siapa yang mampu mengarahkan aliran air sungai, ia yang akan mampu memimpin negeri dengan bijak). Kini, Madiun menanti siapa di antara ketiga sosok ini yang akan muncul sebagai pemimpin baru—yang tidak hanya bisa memimpin dengan kuasa, tetapi juga dengan kearifan dan cinta.

Wiwin Dwi Jatmiko.SH,
Pemerhati masalah pertahanan dan isu strategis,tercatat sebagai Ketua Bidang Organisasi Pencak Silat dan Tenaga Dalam Persaudaraan Rasa Tunggal Pusat Madiun

(R_win)

Belum ada komentar