KOTA TANJUNGPINANG (Beritakeadilan, Riau) – Mewakili Kepala Rumah Sakit Angkatan Laut (Karumkital) Dr. Midiyato Suratani Tanjungpinang Kolonel Laut (K) dr. Edwin M. Kamil, Sp.B., Kepala Departemen Kulit, Telinga dan Mata (Kadepkutema) Kolonel Laut (K/W) Rosa Delina secara virtual ikuti Pertemuan Koordinasi dan Peningkatan Kapasitas Fasyankes TNI dalam Program TBC, dipimpin oleh Wakil Kepala Pusat Kesehatan (Wakapuskes) TNI Marsekal Pertama TNI Dr. dr. Arief Setiawan, Sp.OG., M.Kes., M.M.R.S., yang dilaksanakan terpusat dari Auditorium Hotel The Westin Jakarta Jl. H.R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta. Kamis (13/04/2023)

Dalam sambutan Kepala Pusat Kesehatan (Kapuskes) TNI Mayor Jenderal TNI dr. Guntoro, Sp.BP-RE(K)., yang dibacakan oleh Wakapuskes TNI menyampaikan bahwa acara pertemuan kapasitas faskes TNI dalam program tuberkulosis tahun 2023 pada hakikatnya bertujuan untuk memberikan update informasi terkait situasi kebijakan nasional dan konsep Public Privat Mix (PPM) dalam program tuberkulosis di Indonesia.
“Menurut data WHO pada Tahun 2020 terdapat 30 negara yang menyumbang 86% jumlah kasus ini dua pertiga dari jumlah kasus tersebut diperoleh dari delapan negara yaitu India, Indonesia, Cina, Filipina, Pakistan, Nigeria, Bangladesh dan Afrika Selatan, disaat ini Indonesia menempati peringkat kedua dari delapan negara yang menyumbang dua pertiga kasus tuberkulosis tersebut”, jelas Kapuskes TNI.

Lebih lanjut disampaikan TBC juga menjadi penyebab kematian terbesar di dunia dan merupakan penyakit menular penyebab kematian terbesar setelah Covid-19, tingginya kejadian TBC ini seringkali dihubungkan dengan status gizi penderita selain itu angka kejadian TBC juga bisa dihubungkan dengan status ekonomi serta penyakit komorbid yang menyertainya sehingga kompleksnya penanganan TBC memerlukan kolaborasi dari multi disiplin dan multi sektoral.
Menurut Kapuskes TNI tingginya angka morbilitas dan mortilitas TBC inilah yang menyebabkan PBB kemudian mencanangkan program eliminasi penyakit-penyakit menular termasuk tuberkolosis pada tahun 2030 melalui program SGDS, sebagai upaya percepatan eliminasi tuberkolosis 2030 tersebut perlu dilakukan peningkatan keterlibatan fasyankes milik pemerintah maupun swasta untuk mendukung program tuberkolosis melalui implementasi public privat mix tadi. Melalui pendekatan tersebut diharapkan semua pasien TBC dapat ditemukan dan diobati sesuai dengan standar dan tercatat dalam sistem informasi program tuberkolosis nasional.
“Salah satu fasyankes pemerintah yang potensial untuk program penanggulangan tuberkolosis adalah fasyankes TNI. Karena TNI saat ini 112 rumah sakit dan 642 klinik pratama yang tersebar di seluruh Indonesia, pada tahun 2022 sebanyak 78 rumah sakit milik TNI dan baru sebanyak 1,8% saja klinik pratama milik TNI yang berkontribusi dalam menangani TBC diaplikasi sistem informasi tuberkolosis, hal ini menjadi PR bagi kesatuan TNI Sebagai salah satu sub sistem kesehatan nasional untuk meningkatkan angka partisipasi fasyankes TNI dalam penanganan tuberkolosis nasional kedepan”, ungkap Beliau.
“Salah satu program konkrit dan diupayakan oleh TNI saat ini, TNI sudah ikut dalam progam penurunan penyakit TBC dengan cara meningkatkan fasyankes TNI, dalam kegiatannya TNI melibatkan multi sektor dan multi disiplin dalam mencari dan mencegah kasus baru”, pungkas Kapuskes TNI.
Turut mengikuti kegiatan Pertemuan Koordinasi dan Peningkatan Kapasitas Fasyankes TNI dalam Program TBC secara virtual, Kasubbag Wat Inap Mayor Laut (K) Beny Wahyudi, S.Kep., Kasubbag Rik Umum Mayor Laut (K) dr. Al Afif Lubis, Masriati S.Kep, Ns., Yeni Antanika, A.Md.Kep., Kartika Chandra Wardhany, S.Kep, Ns.
(M.Nur, TNI AL, HUMAS MDT)



Belum ada komentar