KABUPATEN BOJONEGORO, JAWA TIMUR – Perum Perhutani KPH Bojonegoro menegaskan komitmennya dalam mengawal program Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui kegiatan pembibitan dan penanaman alpukat yang disalurkan kepada Gapoktan Sumber Makmur, Kecamatan Dander.
Program tersebut mencakup distribusi 800 bibit alpukat dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) pada Mei 2025. Bibit tersebut ditanam di tiga lokasi berbeda, yakni di area milik Kokobo sebagai mitra Perhutani yang mengelola Wahana Wisata Dander, serta di dua lahan kosong yang masing-masing berada di sisi timur dan barat Sungai Cino Mati.
Administratur Perhutani KPH Bojonegoro, Juwanto, menyatakan bahwa pihaknya akan berperan aktif dalam pendampingan teknis dan pengawasan terhadap Gapoktan guna memastikan keberlanjutan budidaya tanaman alpukat. Ia menambahkan, program ini diharapkan berkembang menjadi kawasan agrowisata berbasis komoditas hortikultura.
“Kita juga akan segera membuat perjanjian dengan Gapoktan. Dan meminta kepada pihak Kokobo untuk melakukan perjanjian yang sama dalam hal bagi hasil,” tandasnya, Rabu (15/4/2026).

Lebih lanjut, Juwanto menekankan pentingnya prioritas distribusi manfaat kepada anggota Gapoktan. Hal ini dimaksudkan agar seluruh petani yang tergabung dapat memperoleh nilai ekonomi dari program tersebut secara merata.
Ia menjelaskan, skema kerja sama yang dirancang berbentuk kemitraan kehutanan produktif (KKP) dengan proporsi bagi hasil sebesar 90 persen untuk petani dan 10 persen untuk Perhutani.
Di sisi lain, Ketua Gapoktan Sumber Makmur, M. Hari Mulyadi, memberikan klarifikasi atas pernyataannya sebelumnya. Ia memastikan jumlah bibit alpukat yang diterima dari DKPP mencapai 800 batang setelah dilakukan verifikasi ulang.
“Saya tidak linglung saat memberi pernyataan, hanya belum selesai saja saat berstatemen kemarin karena buru-buru,” tukasnya.
Hari menjelaskan bahwa pengelolaan lahan dilakukan secara terdistribusi. Area di sebelah barat Sungai Cino Mati dikelola oleh pengurus Gapoktan, sedangkan lahan di sisi timur dikelola oleh 17 petani yang tergabung dalam enam kelompok tani (poktan).
Terkait pembiayaan, ia menyebutkan bahwa proses budidaya saat ini masih dilakukan secara swadaya oleh para petani. Kendati demikian, keterbatasan sumber daya air menjadi kendala utama dalam pengembangan tanaman tersebut.
“Kami sedang mengajukan bantuan Sibel ke Pemkab Bojonegoro,” pungkasnya.

Belum ada komentar