KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR – Program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, keluhan muncul dari wali murid dan guru di SDN Tambakrigadung 2, Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan, Jumat (8/5/2025).
Informasi tersebut mencuat melalui unggahan di grup Facebook dan kemudian viral di berbagai platform media sosial. Dalam unggahan itu disebutkan, menu lauk berupa ayam saus mentai yang dibagikan pada Kamis, 7 Mei 2025, diduga dalam kondisi basi dan mengeluarkan aroma tidak sedap hingga memicu keluhan dari penerima manfaat.
“Ngaputen nggih untuk ayam saus mentai ayamnya agak bau bu,” ujar salah satu anggota grup saat mengadu kepada pihak sekolah.
Menanggapi laporan tersebut, seorang netizen kemudian mengunggahnya ke komunitas Facebook dengan nada peringatan keras kepada penyelenggara program MBG.
“Maaf saya dapat laporan dari wali murid siswa SDN Tambakrigadung 2, Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan. Bahwa menu MBG hari ini dagingnya bau dan tidak layak konsumsi,” tulis unggahan tersebut.
Ia juga meminta agar pihak penyelenggara lebih serius dalam memperhatikan kualitas bahan pangan.
“Tolong MBG kalau sudah niat kasih ya yang benar bergizi, paling tidak ya yang layak konsumsi. Jangan malah menambah penyakit,” tambahnya.
Dalam unggahan yang sama, warga mendesak Badan MBG, khususnya di wilayah Tikung, Lamongan, agar memperketat pengawasan terhadap kinerja pegawai dan pekerja yang mengolah makanan tersebut. Keamanan pangan bagi siswa sekolah dasar dinilai tidak bisa ditawar.
Di sisi lain, pihak sekolah tampaknya telah merespons aduan tersebut secara internal. Dalam potongan percakapan yang beredar, pihak sekolah menyampaikan terima kasih atas informasi tersebut dan berjanji akan meneruskan keluhan kepada petugas MBG pada keesokan harinya.
Padahal, jika dilihat dari brosur menu yang dibagikan, sajian tersebut diklaim memiliki kandungan gizi lengkap. Untuk porsi besar tercatat mengandung energi 590,7 kkal, protein 25,2 gram, lemak 18,41 gram, karbohidrat 71,87 gram, dan serat 3 gram.
Namun, standar gizi yang tinggi di atas kertas itu kini menjadi sorotan publik lantaran kualitas bahan baku yang diterima siswa di lapangan justru dikeluhkan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan. Sementara itu, pihak SPPG setempat belum memberikan klarifikasi resmi atas upaya konfirmasi yang dilakukan.

Belum ada komentar