Mahasiswa Untag Surabaya Ciptakan Alat Deteksi Kualitas Air Minum Berbasis Sensor pH dan Turbidity

Mahasiswa Untag Surabaya Ciptakan Alat Deteksi Kualitas Air Minum Berbasis Sensor pH dan Turbidity
beritakeadilan.com,

SURABAYA, JAWA TIMUR – Kreativitas mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya kembali menorehkan capaian membanggakan. Aditya Vahresi Ramadhan, mahasiswa Program Studi Teknik Elektro, berhasil menciptakan Sistem Deteksi Kualitas Air Minum Kemasan dan Isi Ulang Berbasis Sensor pH dan Turbidity.

Karya tersebut terpilih sebagai salah satu inovasi menarik calon wisudawan yang akan dikukuhkan pada 14–15 Februari 2026. Inovasi ini dinilai memiliki manfaat nyata bagi masyarakat serta berpotensi diterapkan di sektor industri air minum.

Gagasan pembuatan alat ini muncul dari pengalaman pribadi Aditya yang gemar melakukan kegiatan hiking dan pendakian gunung. Dalam sejumlah perjalanan, ia kerap menemukan sumber air alami yang langsung dimanfaatkan para pendaki untuk diminum.

Namun, menurutnya, keputusan tersebut umumnya hanya berdasarkan kepercayaan tanpa data valid mengenai kualitas air.

“Ketika mendaki gunung, sering ada sumber air yang langsung diminum. Padahal kita tidak tahu apakah air tersebut benar-benar bersih atau tidak, karena bisa saja tercemar tanah atau kotoran lain. Dari situ muncul ide untuk membuat alat pendeteksi kualitas air,” papar Aditya.

Dalam penyusunan tugas akhir, Aditya mendapat bimbingan dari Ir. Kukuh Setyajid, M.T. Awalnya, penelitian difokuskan pada pengujian kualitas air sumber pegunungan.

Namun, atas arahan dosen pembimbing dan penguji, fokus penelitian diperluas ke pengujian kualitas air minum kemasan dan air isi ulang. Langkah ini dinilai lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat luas yang setiap hari mengonsumsi air minum dari berbagai sumber distribusi.

Sistem yang dikembangkan memanfaatkan mikrokontroler ESP32 yang terintegrasi dengan sensor pH dan sensor turbidity.

Sensor pH berfungsi mengukur tingkat keasaman air pada skala 1 hingga 14. Secara umum, air dengan pH 6,5 hingga 8,5 dikategorikan netral dan layak konsumsi.

Sementara itu, sensor turbidity digunakan untuk mendeteksi tingkat kekeruhan air sebagai indikator keberadaan partikel kotoran.

“Hasil pengukuran ditampilkan melalui LCD yang menunjukkan nilai pH, tingkat kekeruhan, serta status kelayakan air untuk dikonsumsi. Sistem ini dirancang agar mudah digunakan secara langsung, terutama untuk kebutuhan lapangan,” jelasnya.

Dalam proses pengembangan, tantangan utama terletak pada kalibrasi sensor. Sensor pH dan turbidity memerlukan pengaturan awal agar pembacaan data sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Proses kalibrasi dilakukan dengan menyesuaikan hubungan antara tegangan listrik dengan nilai pH maupun tingkat kekeruhan air, sehingga hasil pengukuran menjadi lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Dari sisi manfaat, alat ini diyakini mampu memberikan kepastian berbasis data bagi konsumen maupun pelaku usaha air minum isi ulang.

“Dengan adanya data pengukuran yang valid, kualitas air tidak lagi hanya berdasarkan asumsi, melainkan berdasarkan hasil pengujian yang terukur,” katanya.

Terpilihnya inovasi ini sebagai karya menarik calon wisudawan menjadi kebanggaan tersendiri bagi Aditya. Ia berharap pengembangan teknologi serupa terus dilakukan mahasiswa, khususnya di lingkungan Teknik Elektro Untag Surabaya.

“Saya berharap adik-adik bisa melanjutkan dan mengembangkan alat ini menjadi lebih sempurna dan lebih valid sesuai standar yang ada. Semoga juga muncul inovasi-inovasi lain yang berdampak langsung bagi masyarakat maupun industri,” terangnya.

Ke depan, Aditya berharap inovasi tersebut tidak berhenti sebagai karya akademik, melainkan benar-benar diimplementasikan secara luas.

Ia menegaskan bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kualitas air minum harus terus ditingkatkan demi kesehatan bersama.

“Saya berharap alat ini bisa meningkatkan kesadaran masyarakat untuk lebih peduli terhadap kualitas air yang dikonsumsi, sehingga masyarakat bisa merasa lebih aman dan nyaman,” pungkasnya.

Belum ada komentar