SURABAYA, JAWA TIMUR – Polemik pembangunan fasilitas baru kembali mencuat di kawasan hunian premium Graha Famili. Perumahan elite di Surabaya Barat itu kini menjadi sorotan setelah proyek bertajuk The Nook yang dikembangkan oleh PT Surya Agung Sari memicu perbedaan sikap di kalangan penghuni.
Pembangunan tersebut memunculkan dua kubu di internal warga. Sebagian mendukung proyek tersebut, sementara kelompok lainnya secara tegas menyatakan penolakan.
Kelompok warga yang menolak menilai pembangunan The Nook tidak sesuai dengan kebutuhan mayoritas penghuni. Mereka mengaku lebih menginginkan fasilitas olahraga berupa lapangan tenis di lokasi yang sama.
“kami menantikan lapangan tenis, bukan konsep lain,” kata salah satu warga yang menyampaikan penolakan.
Menurut mereka, fasilitas tenis dinilai lebih relevan, terutama bagi penghuni berusia senior yang membutuhkan sarana olahraga yang spesifik dan terukur.
Di sisi lain, kelompok warga yang mendukung justru melihat proyek The Nook sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kualitas lingkungan hunian.
“Fasilitas seperti ini bisa menambah nilai kawasan dan menjadi tempat aktivitas warga,” ujar salah satu penghuni yang mendukung proyek tersebut.
Pendukung proyek menilai konsep yang ditawarkan menghadirkan ruang terbuka hijau serta area aktivitas olahraga ringan yang lebih fleksibel dan inklusif.
Perselisihan antarwarga tersebut bahkan disebut telah sampai ke tingkat pemerintahan. Hal ini menandakan bahwa konflik internal di kawasan perumahan elite dapat berkembang menjadi isu administratif yang lebih luas.
Fenomena ini sekaligus memperlihatkan bahwa perbedaan kepentingan dalam pembangunan fasilitas tidak mengenal batas kelas sosial.
Sebagai salah satu kawasan hunian bergengsi di Surabaya Barat, Graha Famili dikenal memiliki nilai properti yang sangat tinggi. Berdasarkan berbagai listing properti, harga rumah di kawasan ini mencapai puluhan miliar rupiah, dengan kisaran termurah berada di angka Rp5 miliar.
Tingginya nilai investasi tersebut membuat setiap perubahan fasilitas kawasan menjadi isu sensitif bagi para penghuni.
Polemik ini menjadi gambaran nyata bahwa konflik sosial tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Di lingkungan elite, perbedaan justru kerap muncul dari selera, preferensi gaya hidup, hingga kepentingan investasi.
Jika di masyarakat umum konflik sering dipicu oleh kebutuhan dasar, maka di kawasan premium seperti Graha Famili, perdebatan dapat muncul dari arah pembangunan fasilitas dan visi pengembangan kawasan ke depan.

Belum ada komentar