SURABAYA (Beritakeadilan.com, Jawa Timur) – Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) menggelar Diskusi Strategis yang memfokuskan pembahasan pada hilirisasi kelapa sebagai model percontohan penguatan ekonomi daerah. Agenda akademik ini berlangsung di Auditorium RM Soemantri, Kampus Unitomo Surabaya, dan menghadirkan tiga narasumber utama Bupati Halmahera Utara Piet Hein Babua, Guru Besar Teknologi Pangan Prof. Fadjar K Hartati, serta Rektor Unitomo Prof. Siti Marwiyah.
Diskusi ini menjadi ruang pembahasan mendalam mengenai langkah konkret Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara dalam mendorong transformasi komoditas kelapa. Dari komoditas mentah, kelapa kini disiapkan menjadi produk hilir bernilai tambah tinggi, hingga mampu masuk pasar ekspor.
Bupati Halmahera Utara Piet Hein Babua menegaskan perlunya kebijakan tegas pemerintah daerah untuk memastikan ketersediaan bahan baku industri. Peraturan Daerah (Perda) yang melarang ekspor kelapa mentah menjadi kunci menjaga alur produksi industri pengolahan dan sekaligus menciptakan persaingan harga yang sehat di tingkat petani.
Ia mengungkapkan bahwa industri pengolahan yang hadir di wilayahnya telah memberi dampak nyata. Harga kopra bahkan sempat naik hingga Rp25.000 per kilogram setelah industri hilir mulai berkembang.
“Industri yang hadir di Halmahera Utara yang kita lahirkan hari ini dengan peraturan ini bukan sekedar untuk menghasilkan produk yang kita ekspor, tapi memiliki multiplier effect yang sangat luar biasa, karena ada tenaga kerja yang tertampung di sana dan kemudian terjadi persaingan harga yang semuanya itu dinikmati oleh masyarakat,” ujar Babua, Sabtu (29/11/25).
Prof. Fadjar K Hartati turut mengapresiasi kebijakan tersebut. Menurutnya, kelapa merupakan ‘pohon kehidupan’ yang setiap bagiannya memiliki nilai ekonomi tinggi. Dengan menahan komoditas mentah, daerah berhasil mendorong lahirnya diversifikasi produk turunan, seperti coconut milk, santan bubuk, hingga Virgin Coconut Oil (VCO).
“Kebijakan ini adalah langkah cerdas untuk menghentikan kerugian ekonomi akibat ekspor bahan mentah dan memaksa lahirnya inovasi pangan,” tegas Prof. Fadjar.
Rektor Unitomo, Prof. Siti Marwiyah, menyampaikan komitmen penuh Unitomo dalam mendukung agenda hilirisasi tersebut melalui riset, pendampingan daerah, serta penguatan SDM. Delapan fakultas di Unitomo disiapkan untuk terlibat dalam pengembangan riset aplikatif dan program pengabdian kepada masyarakat.
“Kami siap terlibat, termasuk melalui program pengabdian dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik yang bersinergi langsung dengan kebutuhan Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara,” ujar Prof. Siti.
Diskusi strategis ini ditutup dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (MoA) antara Unitomo dan Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara. Penandatanganan ini menandai komitmen jangka panjang kedua pihak dalam menjadikan hilirisasi kelapa sebagai bagian dari agenda pembangunan berkelanjutan.(**)



Belum ada komentar