SURABAYA, JAWA TIMUR-Penggeledahan besar-besaran yang dilakukan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur di kantor PD Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya (PD TSKBS) bak menyiram bensin ke api perjuangan para aktivis lingkungan. Singky Soewadji, pemerhati satwa liar sekaligus koordinator Aliansi Pecinta Satwa Liar Indonesia (APECSI), kembali angkat bicara dengan nada tinggi.
Bagi Singky, langkah hukum Kejati ini adalah gerbang pembuka untuk mengurai benang kusut yang selama ini sengaja dikubur rapat: dugaan penjarahan 420 satwa KBS yang terjadi pada tahun 2014 silam.
Singky menegaskan bahwa carut-marut di KBS bukan sekadar masalah administrasi keuangan biasa. Ia mencium adanya konspirasi besar yang melibatkan jaringan pejabat tinggi negara dan pengusaha nasional.
“Ini makin terbukti bahwa memang ada kasus penjarahan 420 satwa KBS tahun 2014 yang sengaja ditutupi. Modusnya sangat rapi, menggunakan kedok konservasi untuk mengeruk keuntungan,” tandas Singky dengan geram, Sabtu (7/2/2026).
Rekam jejak Singky dalam mengawal kasus ini penuh dengan kerikil tajam. Pada 2018, ia sempat merasakan dinginnya jeruji besi Rutan Medaeng selama 18 hari karena kelugasannya bersuara. Namun, perjuangan itu berbuah manis dengan vonis “Bebas Murni” dari pengadilan, yang sekaligus melegitimasi bahwa kritikannya bukan sekadar isapan jempol.
Selain kasus penjarahan satwa, Singky mendesak Kejati Jatim untuk memperluas cakupan penyidikan. Ada dua poin krusial yang ia soroti:
-
Penyertaan Modal: Kejati diminta mengaudit secara forensik aliran dana penyertaan modal dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya ke PD TSKBS yang nilainya sangat fantastis.
-
Proyek Night Zoo: Singky mempertanyakan akuntabilitas proyek operasional malam hari (Night Zoo) yang akhirnya gagal total. Padahal, sejak awal proyek ini ditentang keras oleh para ahli karena dianggap mengganggu kesejahteraan satwa.
“Perjuangan belum selesai, perjalanan masih panjang. Tapi sekali layar terkembang, surut kita berpantang,” tegas mantan atlet berkuda nasional ini, mengutip semboyan pelaut yang menjadi prinsip hidupnya.
Langkah berani Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi yang meminta audit menyeluruh, ditambah aksi nyata Kejati Jatim, kini menjadi amunisi baru bagi gerakan “Arek Suroboyo Peduli KBS”. Masyarakat sipil kini menaruh harapan besar agar lembaga Adhyaksa tidak gentar menghadapi tekanan dari pihak mana pun.
Publik menanti, apakah penyidikan ini akan berani menyentuh para “pemain lama” yang selama ini tak tersentuh hukum, atau hanya akan berhenti pada level teknis operasional di lapangan. Satu yang pasti, suara Singky Soewadji menjadi pengingat bahwa tembok tebal kekuasaan kini mulai retak oleh kebenaran.



Belum ada komentar