KABUPATEN BOJONEGORO, JAWA TIMUR – Pengadaan 1.600 bibit alpukat oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro tahun 2025 mulai disorot dari sisi transparansi anggaran.
Kepala DKPP Bojonegoro, Zaenal Fanani, saat di konfirmasi melalui pesan WhatsApp terkait perihal pemeberitaan sebelumnya, ia menyatakan total anggaran program tersebut sebesar Rp 148.150.000.
“Berita itu tidak benar, anggaran kita hanya Rp148.150.000,” ujarnya melalui pesan singkat, Senin (13/4/2026).
Dokumen yang diperoleh juga menunjukkan anggaran tersebut digunakan untuk pengadaan bibit varietas Miki dan Siger (okulasi) yang didistribusikan ke sejumlah kecamatan, seperti Dander, Temayang, Sekar, Margomulyo, dan Bubulan.
Jika dihitung, nilai per batang mencapai sekitar Rp92 ribu.
Angka ini belum dapat dinilai wajar, karena belum ada penjelasan rinci apakah harga tersebut murni untuk bibit atau sudah mencakup biaya lain seperti distribusi dan pendampingan.
Di pasaran, harga bibit alpukat memang bervariasi, terutama untuk jenis okulasi. Namun tanpa keterbukaan harga satuan dan spesifikasi teknis, perbandingan menjadi sulit dilakukan.
Sejumlah data di kunci, mulai dari rincian harga, penyedia bibit, hingga mekanisme distribusi-juga belum sepenuhnya terbuka.
Tanpa kejelasan tersebut, angka Rp92 ribu per batang akan terus memunculkan pertanyaan.
Keterbukaan informasi menjadi penting agar anggaran yang digunakan benar-benar sejalan dengan manfaat yang diterima masyarakat.

Belum ada komentar