Kausri Agama Nasrani “Menjadikan Segalanya Baik” Di Rumkital Dr. Midiyato Suratani

beritakeadilan.com,

TANJUNGPINANG (Beritakeadilan, Kepulauan Riau) – Rumah Sakit Angkatan Laut (Rumkital) Dr. Midiyato Suratani Tanjungpinang mengadakan Kegiatan Agama Untuk Siraman Rohani (Kausri) Agama Nasrani, menyampaikan Firman Tuhan dari kitab Markus 7 ayat 31-37 “Menjadikan Segalanya Baik”. Menghadirkan pelayanan firman Pendeta ZA Simanjuntak M.Div dari HKBP Tanjungpinang serta dihadiri oleh segenap Prajurit dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) serta PPNPN RSAL setempat yang beragama Nasrani, bertempat di Gedung Serba Guna (GSG) Pulau Serasan Rumkital Dr. Midiyato Suratani Jln. Ciptadi No. 01 Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Rabu (03/02/2023)

Kausri Agama Nasrani tersebut dilaksanakan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai landasan dalam pengabdian seluruh personel Satya Dharma Bhakti yang memegang teguh nilai-nilai Sapta Marga, Sumpah Prajurit, Delapan Wajib TNI, Trisila TNI AL dan Panca Prasetya Korpri.

Rangkaian kegiatan pada kausri Agama Nasrani tersebut dibuka dengan saat teduh, nyanyian dan doa pembukaan dilanjutkan dengan nyanyian pujian, pelayanan firman, serta doa syafaat dan lagu persembahan ditutup dengan doa bapa kami dan berkat.

Dalam Firman Tuhan, Markus 7 ayat 31-37 Pendeta ZA Simanjuntak M.Div, menjelaskan bahwasanya sesuatu disebut baik apabila memenuhi fungsi dan cara kerjanya. Manusia dapat melakukannya dalam beberapa hal, namun ada hal lain yang diluar kemampuan manusia.

“Yesus terus menyingkir ke daerah Dekapolis (31). Tetap ada orang yang mengikuti-Nya dan membawa orang sakit. Kali ini mereka membawa orang tuli dan bisu (dapat juga berarti tidak dapat berbicara dengan jelas) untuk disembuhkan oleh Yesus (32). Peletakan tangan ini mengikuti tradisi pemberkatan nabi pada zaman dahulu. Mereka berharap agar Yesus berbelas kasihan kepadanya. Yesus memisahkannya dari orang banyak karena tidak ingin memamerkan kuasa-Nya”, jelas Pendeta ZA Simanjuntak.

Lebih lanjut disampaikan, untuk menunjukkan apa yang akan dilakukan-Nya, Yesus memasukkan jari ke telinganya seolah-olah ingin mengeluarkan sesuatu yang menutup pendengarannya. Yesus juga meludah, kemudian meraba lidahnya seakan-akan ingin membuatnya lembab dan menghilangkan sesuatu yang merekatkannya (33), Yesus empati dengan kondisi orang tersebut sehingga Dia menarik nafas, lalu berdoa dan berkata “efata yang artinya terbukalah” (34), alhasil orang itu dapat mendengar dan berkata-kata dengan baik (35). Yesus melarang pemberitaan tentang diri-Nya, tetapi mereka tetap melakukannya (36). Mereka sangat takjub karena Yesus melakukan sesuatu yang tidak pernah mereka harapkan (37).

Mengakhiri Kausri Agama Nasrani Pendeta ZA Simanjuntak menegaskan bahwa setiap pelayan Tuhan hendaknya tidak mengejar keuntungan diri, pelayanan itu sebaiknya bersifat personal karena dalam relasi tersebut ada perhatian dan belas kasih, disamping itu pelayanan juga harus tepat sasaran, seperti Yesus bukan hanya iba kepada orang tersebut tetapi Ia memberikan yang terbaik yaitu pendengaran dan kemampuan berbicara, Yesus membuat segala-galanya menjadi baik, semua berjalan dan berfungsi sebagaimana mestinya sesuai dengan yang dikehendaki-Nya.

“Keyakinan sepenuh hati kepada kuasa Yesus akan menolong kita memahami segala kebaikan yang Dia lakukan bagi hidup manusia. Syukur kepada Tuhan”, pungkas Pendeta ZA Simanjuntak.

(M.NUR / HUMAS MDT)

Belum ada komentar