BKKBN Jawa Timur Perkuat Sinergi

Foto: Rapat Evaluasi Program Bangga Kencana 2025 BKKBN Jawa Timur bersama OPD KB 38 kabupaten kota di Surabaya.
beritakeadilan.com,

SURABAYA, JAWA TIMUR – Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga melalui BKKBN Perwakilan Provinsi Jawa Timur menggelar Rapat Evaluasi Program Bangga Kencana Tahun 2025 bertema Konsolidasi dan Penguatan Sinergi antara Perwakilan BKKBN Jawa Timur dengan OPD KB Kabupaten/Kota. Forum strategis ini menjadi ruang konsolidasi sekaligus evaluasi menyeluruh atas capaian program kependudukan dan pembangunan keluarga di Jawa Timur.

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur sekaligus Plt. Deputi Bidang Penggerakan dan Peran Serta Masyarakat Kemendukbangga/BKKBN, Dra. Maria Ernawati, M.M., Pj. Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur Sukamto, S.E., M.Si., Sekretaris BKKBN Provinsi Jawa Timur Ghana Renaldi Pasca Surya, S.H., M.Ak., jajaran Ketua Tim Kerja, serta Kepala OPD KB dari 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur. Turut hadir sebagai moderator Prof. Dr. Lutfi Agus Salim, S.K.M., M.Si.

Momentum ini sekaligus menjadi momen purna bakti Dra. Maria Ernawati, M.M., yang selama ini memimpin penguatan Program Bangga Kencana di Jawa Timur.

Dalam sambutannya, Maria Ernawati menegaskan bahwa rapat evaluasi tidak sekadar menilai capaian, tetapi juga merumuskan strategi ke depan agar program semakin adaptif dan berdampak langsung bagi masyarakat.

“Keberhasilan ini bukan semata-mata karena BKKBN, tetapi karena sinergitas dan kolaborasi yang luar biasa antara perwakilan provinsi dan OPD KB kabupaten/kota. Dari sinilah lahir berbagai prestasi dalam pengelolaan program Bangga Kencana di Jawa Timur,” ujarnya Jumat, (27/2/2026).

Ia menjelaskan dua fokus utama kementerian, yakni stabilitas demografi dan pembangunan keluarga berbasis siklus hidup. Stabilitas demografi Jawa Timur dinilai terkendali dengan Total Fertility Rate berada di angka 1,96. Angka ini menunjukkan tingkat kelahiran yang relatif stabil dan mendukung bonus demografi yang berkualitas.

Dalam aspek percepatan penurunan stunting, Jawa Timur mencatat angka 14,7 persen, lebih baik dibanding rata-rata nasional sebesar 19,8 persen. Capaian ini menjadi indikator kuat efektivitas intervensi berbasis keluarga yang dijalankan secara terintegrasi.

Pembangunan keluarga, lanjutnya, dilakukan melalui pendekatan siklus hidup, mulai dari balita, remaja, hingga lansia. Seluruh intervensi diarahkan pada penguatan delapan fungsi keluarga, dengan fungsi keagamaan sebagai pondasi utama hingga fungsi lingkungan hidup.

Maria menyoroti bahwa sekitar 60 persen sampah harian berasal dari rumah tangga. Karena itu, edukasi pengelolaan sampah berbasis keluarga menjadi agenda strategis nasional yang harus diperkuat bersama pemerintah daerah.

“Jika pondasi keluarga kuat, terutama fungsi keagamaannya, maka akan lahir generasi berakhlak baik dan ketahanan keluarga yang kokoh. Dari keluarga yang kuat, kita menuju bangsa yang luar biasa,” tegasnya.

Isu perkawinan anak juga menjadi perhatian serius. Data menunjukkan terdapat sekitar 3.900 kasus perkawinan anak di Jawa Timur. Pernikahan di bawah usia 19 tahun dinilai berpotensi meningkatkan risiko stunting, perceraian, hingga melemahnya ketahanan keluarga.

Untuk merespons tantangan tersebut, BKKBN memperkuat intervensi melalui program Sekolah Orang Tua Hebat, Bina Keluarga Remaja, serta pendampingan keluarga berisiko. Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan kesadaran orang tua dan remaja tentang pentingnya perencanaan kehidupan berkeluarga yang matang dan bertanggung jawab.

Melalui rapat evaluasi ini, Kemendukbangga/BKKBN Jawa Timur bersama OPD KB di 38 kabupaten/kota berkomitmen memperkuat konsolidasi dan menyelaraskan strategi agar Program Bangga Kencana Tahun 2025 semakin efektif, terukur, dan berorientasi pada ketahanan keluarga sebagai fondasi pembangunan daerah.

Belum ada komentar