KABUPATEN BOJONEGORO,JAWA TIMUR – Warga Desa Ngunut, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, resah dan kecewa. Keluhan mereka terkait ancaman longsor di bantaran Kali Grogolan hingga kini belum ditindaklanjuti oleh pemerintah desa setempat, padahal kondisi di lapangan dinilai sudah sangat mengkhawatirkan.
Salah satu warga, Laeman (RT 11), mengaku gelisah melihat kondisi tanah di belakang rumahnya yang berada tepat di pinggir sungai. Dalam sebulan terakhir, area tersebut sudah mengalami longsor dan retakan akibat gerusan arus air.
“Sudah saya laporkan berkali-kali ke pemdes, tapi belum ada tindak lanjut sampai sekarang,” keluhnya.
Ketakutan warga semakin memuncak saat hujan turun dengan intensitas tinggi. Mereka khawatir air akan semakin menggerus tebing dan memperparah kerusakan, hingga berpotensi merobohkan pemukiman.
Camat Dander, Teguh Wibowo, mengaku sudah menerima laporan dan bahkan telah meninjau langsung lokasi terdampak. Namun, menurut dia, proses penanganan tidak bisa serta merta dilakukan tanpa prosedur administrasi yang jelas.
“Harus ada pengajuan dari pemdes. Nantinya bantuan yang bisa diberikan berupa kerangka besi untuk penahan longsor dan penanaman bambu,” jelasnya. Kamis (9/4/2026).
Sayangnya, upaya penanganan ini terganjal di tingkat desa. Kepala Desa Ngunut, Suwarno, mengakui bahwa pihaknya hingga kini belum mengajukan proposal permohonan bantuan ke instansi terkait. Ia beralasan belum sempat mengurus administrasi tersebut.
“Belum sempat, besok saya suruh buat ke Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Alam (DPU SDA),” ujarnya singkat.
Lambannya respons ini memicu pertanyaan besar terkait keseriusan pemerintah desa dalam menjaga keselamatan warga. Pasalnya, ancaman longsor tidak hanya mengancam kerugian materiil, tetapi juga membahayakan nyawa. Warga berharap Pemdes Ngunut segera bergerak cepat, tidak menunggu bencana benar-benar terjadi baru bertindak.

Belum ada komentar