Pameran Seni Jadi Suara Seniman Surabaya Tolak Pengosongan Balai Pemuda

Foto: Komunitas seniman yang tergabung dalam Aksi Seniman Surabaya (ASSU)
beritakeadilan.com,

SURABAYA, JAWA TIMUR-Komunitas seniman yang tergabung dalam Aksi Seniman Surabaya (ASSU) menggelar pameran seni rupa bertajuk ART FOR FREEDOM di Galeri Merah Putih, Balai Pemuda, mulai 1 hingga 8 April 2026. Pameran ini bukan sekadar agenda artistik, melainkan simbol sikap kolektif seniman terhadap kebijakan pengosongan sejumlah ruang kreatif oleh Pemerintah Kota Surabaya melalui Disbudporapar.
Ketua ASSU, Muit Arsa, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan bentuk perlawanan, melainkan upaya membangun komunikasi sehat. “Melalui ART FOR FREEDOM kami berharap dapat membangun dialog konstruktif dan menemukan langkah bersama untuk menciptakan ekosistem kesenian yang lebih kuat dan inklusif bagi kota Surabaya tercinta,” ujarnya.

Foto: Pameran seni rupa ART FOR FREEDOM di Galeri Merah Putih Balai Pemuda Surabaya menampilkan karya seniman lokal
Foto: Pameran seni rupa ART FOR FREEDOM di Galeri Merah Putih Balai Pemuda Surabaya menampilkan karya seniman lokal

Pameran menghadirkan 38 seniman dari berbagai latar belakang dengan ragam aliran seni lukis. Setiap karya menjadi simbol kebebasan berekspresi sekaligus refleksi kegelisahan atas kondisi ruang kreatif yang terancam hilang.

Bagi para seniman, Balai Pemuda bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang hidup bagi lahirnya gagasan, interaksi, dan perkembangan seni budaya lokal. “Seni bukan sekadar hiasan kota. Ia adalah jiwa kota kita. Jika ruangnya hilang, maka yang memudar bukan hanya warna tetapi juga rasa,” tegas Muit Arsa.

Di tengah berlangsungnya pameran, aksi unjuk rasa muncul sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan pengosongan ruang. Sejumlah komunitas dan pegiat seni turun ke jalan menyuarakan keberatan mereka.
Kebijakan Disbudporapar diketahui menyasar beberapa ruang yang selama ini menjadi pusat aktivitas komunitas, seperti DKS, Bengkel Muda Surabaya, serta area kantin di kawasan Balai Pemuda. Para demonstran menilai langkah tersebut berpotensi mematikan ekosistem kreatif yang telah tumbuh selama bertahun-tahun.

Dalam orasi, massa menegaskan bahwa ruang-ruang tersebut memiliki nilai strategis dalam pembinaan generasi muda, khususnya dalam bidang seni dan budaya. Komunitas seniman mendesak Pemerintah Kota Surabaya untuk membuka ruang dialog sebelum kebijakan pengosongan dijalankan sepenuhnya.
Mereka berharap ada keterlibatan langsung dari pelaku seni dalam setiap pengambilan keputusan yang menyangkut ruang publik kreatif. Situasi ini mencerminkan tarik menarik antara kebutuhan penataan kota dan keberlangsungan ekosistem seni.

ART FOR FREEDOM: Simbol Harapan
Pameran ART FOR FREEDOM menjadi penanda bahwa di tengah tekanan kebijakan, suara seni tetap hadir bukan dengan amarah, melainkan dengan makna. Seni Surabaya menunjukkan bahwa kreativitas tidak bisa dibungkam, dan ruang ekspresi harus tetap hidup demi masa depan kota.

Belum ada komentar