SURABAYA, JAWA TIMUR–Ketergantungan petani pada sinar matahari saat musim panen memicu lahirnya inovasi teknologi tepat guna. Nur Ahmad Justine Ivana, mahasiswa Teknik Elektro Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, berhasil merancang alat pemisah dan pemanas padi berbasis sensor suhu serta kelembapan.
Justin, sapaan akrabnya, mengembangkan alat ini sebagai solusi atas risiko penurunan kualitas gabah akibat cuaca tidak menentu. Mahasiswa yang akan wisuda pada 24 Februari 2026 ini merancang sistem pengeringan otomatis yang tidak lagi bergantung sepenuhnya pada panas matahari.
Teknologi Sensor untuk Hasil Panen Optimal
Inovasi bertajuk “Rancang Bangun Alat Pemisah dan Pemanas Padi” ini memanfaatkan teknologi mikrokontroler. Alat tersebut bekerja secara real-time menggunakan sensor suhu dan kelembapan sebagai parameter utama untuk menjaga stabilitas panas.
“Proses pengeringan tradisional sangat berisiko saat cuaca buruk. Dengan alat ini, suhu tetap stabil karena menggunakan heater sebagai sumber panas utama,” jelas Justin saat ditemui di kampus Untag Surabaya, Selasa (10/2/2026).
Selain mengeringkan, alat ini memiliki keunggulan lain yakni mampu memisahkan gabah dari ampas atau kotoran. Sistem tersebut bekerja berdasarkan prinsip perbedaan massa jenis yang dibantu oleh aliran udara dari blower. Hasilnya, tingkat kekeringan gabah menjadi lebih merata dibandingkan metode jemur konvensional.
Inspirasi dari Kepedulian terhadap Petani
Gagasan penelitian ini lahir dari keprihatinan Justin terhadap nasib petani lokal, terutama saat memasuki musim penghujan. Kadar air yang tinggi pada gabah seringkali membuat harga jual petani jatuh di pasaran.
“Saya ingin skripsi ini memberikan manfaat nyata bagi petani. Dengan alat ini, gabah bisa langsung dikeringkan segera setelah panen, sehingga petani tidak perlu khawatir lagi akan kerugian saat hujan turun,” tambah lulusan SMK Negeri 1 Driyorejo tersebut.
Perjuangan Mahasiswa Pekerja dengan IPK Memuaskan
Capaian Justin tergolong luar biasa mengingat statusnya sebagai mahasiswa kelas malam. Ia harus membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan sebagai Building Management di Trans Property (Trans Group).
Meski memiliki jadwal yang padat, Justin membuktikan dedikasinya dengan menyelesaikan studi hanya dalam waktu 3,5 tahun. Ia berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sebesar 3,5. Latar belakang pendidikannya di bidang Instalasi Tenaga Listrik terbukti sangat membantu dalam penyelesaian inovasi alat pengering padi ini.
Karya Justin diharapkan menjadi langkah awal modernisasi sektor pertanian di Indonesia. Pemanfaatan teknologi tepat guna seperti ini menjadi kunci penting dalam meningkatkan kesejahteraan petani melalui efisiensi proses pascapanen.



Belum ada komentar