SURABAYA (Beritakeadilan.com, Jawa Timur) – Inovasi teknologi kembali menyentuh wilayah pedesaan. Dosen Prodi Teknik Komputer Universitas Dinamika (Undika), Weny Indah Kusumawati, menginisiasi penerapan sistem Budidaya Ikan Dalam Ember (Budikdamber) berbasis Internet of Things (IoT) di Desa Sidorame, Gunungan, Dawar Blandong, Mojokerto. Program ini menggabungkan teknologi sensor dan otomasi untuk memperkuat sektor perikanan sekaligus memberdayakan ibu-ibu PKK desa setempat.
Weny menjelaskan bahwa teknologi Budikdamber berbasis IoT ini didesain untuk memudahkan warga dalam memantau kualitas air dan mengatur pemberian pakan tanpa sentuhan manual. “Sistem ini digunakan untuk mengelola dan mengontrol kondisi air dan pakan secara otomatis sehingga lebih efisien dan mudah diterapkan di rumah tangga,” ujar Weny, Sabtu (06/12/25).
Perangkat yang digunakan mencakup mikrokontroler ESP32, sensor suhu, sensor ultrasonik, modul relay, hingga aplikasi pemantauan berbasis Android. Seluruh komponen ini bekerja terintegrasi untuk mengatur sirkulasi air, pemberian pakan, hingga menjaga kestabilan kualitas air.
Menurut Weny, ibu-ibu PKK dipilih sebagai sasaran utama karena ketelatenan mereka dalam pekerjaan yang membutuhkan rutinitas. Teknologi ini juga membantu mengurangi risiko cedera ketika mengelola kolam ikan.
“Dengan teknologi IoT, perempuan bisa bekerja secara efisien tanpa perlu menghabiskan waktu dan tenaga demi menghasilkan sesuatu yang bersifat produktif di lingkungan desa,” imbuh Weny.
Kepala Desa Gunungan, Sadi, menyambut hangat kedatangan para dosen Undika yang membawa transformasi teknologi untuk masyarakatnya. Ia menilai, program Budikdamber otomatis ini sejalan dengan upaya menjadikan Gunungan sebagai desa digital.
“Saya sangat senang dengan program ini. Karena selain urusan birokrasi dan surat menyurat di balai desa yang harus berbasis teknologi, masyarakat juga bisa menggerakkan roda ekonomi melalui teknologi seperti ini,” terang Sadi.
Para ibu-ibu PKK Sidorame tampak sumringah saat memanen ikan lele yang telah dipelihara selama dua bulan menggunakan sistem otomatis tersebut. Perwakilan PKK, Nur Halimah, mengakui keberadaan teknologi IoT ini mampu menambah sumber ekonomi baru bagi warga. Ia berharap inovasi serupa dapat diterapkan pula ke sektor pertanian—mengikuti mata pencaharian utama warga yang menggarap padi, jagung, tembakau, dan lombok. “Jika menggunakan alat otomatis seperti ini, ibu-ibu tidak lagi capek-capek menghabiskan waktu untuk menyiram tanaman di sawah atau ladang,” ungkap Halimah.
Baik pemerintah desa maupun para anggota PKK berharap teknologi serupa dapat dikembangkan ke seluruh lahan pertanian di Gunungan, termasuk sistem penyiraman dan pemupukan otomatis. Aspirasi itu disambut baik oleh Weny dan tim, yang berharap dukungan pendanaan berkelanjutan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Program ini dinilai punya potensi besar memperluas ekosistem pertanian pintar di desa-desa Indonesia.(**)



Belum ada komentar